Letusan Gunung Tambora


tambora

Yogyakarta, Rabu 20 Juli 1825. Matahari kuning kemerah-merahan mengambang rendah di atas kaki langit barat saat jarum jam menunjuk pukul 17:00 setempat. Cahaya keemasannya melaburi langit senja dan juga pucuk-pucuk pepohonan di seantero kota, seakan hendak melipur lara para penduduknya yang menderita di bawah pendudukan Belanda. Namun keindahan senja itu tak sanggup menghapus amarah membara. Di kejauhan sana, di dekat kaki langit sebelah barat, asap mengepul pekat. Inilah saat pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda menyerbu Ndalem Tegalrejo, kediaman Pangeran Diponegoro di pedesaan sisi barat kota. Pasukan gabungan itu datang menghantam dengan satu tujuan: meringkus sang pangeran. Itulah jawaban atas sikap keras Pangeran Diponegoro yang dianggap membangkang karena menolak rencana pelebaran jalan raya (kelak menjadi bagian jalan raya Yogyakarta-Magelang) yang melintasi tapalbatas Ndalem Tegalrejo. Penyerbuan berlangsung kelewat batas. Ndalem Tegalrejo digedor, digeledah, diobrak-abrik dan lantas dibakar. Namun sang buruan tak tertangkap. Bersama sejumlah pengiringnya, Diponegoro meloloskan diri dari kepungan dan lantas menyingkir 10 km ke selatan, ke perbukitan Selarong yang dipenuhi goa-goa kapur.

Diponegoro. Kadang ditulis juga sebagai Dipanegara. Tak satupun orang Indonesia khususnya yang pernah mengenyam bangku sekolah yang asing akan namanya. Diponegoro adalah pahlawan nasional Indonesia. Sosoknya gampang terpatri dalam benak: berpakaian serba putih, bersorban putih pula dan menyandang keris didepan raga. Tak heran jika tampilan ini banyak ditiru khususnya dalam pentas perayaan peringatan kemerdekaan republik ini, baik di sekolah, di karnaval menyusuri jalan-jalan utama maupun di panggung serta layar perak. Tak berbilang pula kota-kota yang menabalkan salah satu ruas jalan utamanya dengan namanya. Namanya pun melekat pada daerah militer di Jawa Tengah (sebagai Kodam IV/Diponegoro), juga pada salah satu lembaga perguruan tinggi prestisius (Universitas Diponegoro). Sejumlah patung bernuansa kepahlawanan yang menggambarkan sosoknya pun berdiri dimana-mana. Bahkan dua buah kapal perang TNI-AL pun menyandang namanya, misalnya yang termutakhir KRI Diponegoro-365.

Gambar 1. Dinding berlubang di pagar sisi barat eks Ndalem Tegalrejo (kini Museum Sasana Wiratama Dipoengoro, Yogyakarta). Di sinilah Pangeran Diponegoro meloloskan diri saat kediamannya diserbu pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda, yang mengawali berkobarnya Perang Diponegoro. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Ya. Diponegoro memang pahlawan besar, sosok sentral dibalik Perang Diponegoro atau yang dikenal juga sebagai Perang Jawa dalam melawan penjajahan Belanda. Perang Diponegoro menjadi peperangan paling berdarah, paling mahal dan paling menguras tenaga sepanjang sejarah penjajahan Belanda di Indonesia. Hanya dalam tempo 5 tahun Belanda harus mengerahkan 50.000 serdadu dengan tak kurang dari 15.000 diantaranya tumpas berkalang tanah. Separuh korban tewas itu adalah pasukan terpilih yang didatangkan langsung dari tanah Eropa. Perkebunan-perkebunan yang selama ini menjadi lumbung uang dibakar dan dirusak. Total kerugiannya pun melangit, mencapai angka 20 juta gulden pada masa itu atau setara milyaran rupiah di masa kini. Dikombinasikan dengan duit yang harus dirogoh dalam perang Napoleon di daratan Eropa yang disusul pemberontakan Belgia dan perang Paderi di Sumatra, Perang Diponegoro membuat pemerintah Belanda maupun satelit seberang lautannya (yakni pemerintah kolonial Hindia Belanda) mendapati diri mereka bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.

Diponegoro sejatinya bukan nama diri. Itu adalah gelar kepangeranan yang bukan main-main. Gelar bagi seorang pangeran yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara. Sebelum 1825 gelar ini acapkali dipakai sejumlah putra raja wangsa Mataram masa itu. Pangeran Diponegoro yang kita bicarakan ini lahir sebagai BRM (Bandoro Raden Mas) Mustahar, putra sulung Sri Sultan Hamengku Buwono III, di tahun 1785. Saat beranjak remaja, sesuai tradisi keraton maka namanya bersalin menjadi RM (Raden Mas) Ontowiryo. Dan pada tahun 1812 beliau dinobatkan sebagai pangeran dengan menyandang gelar BPH (Bandoro Pangeran Haryo) Diponegoro. Sebagai putra tertua sang raja yang sedang bertahta, Diponegoro pun memiliki kesempatan untuk menjadi raja berikutnya. Namun Diponegoro tahu diri, ia bukanlah putra permaisuri. Sebaliknya ia justru keluar dari lingkungan keraton dan tinggal di pedesaan untuk mendekatkan diri dengan rakyat Yogyakarta sembari memperdalam ilmu agama (Islam). Dalam saat-saat tertentu sang pangeran, dengan menyamar sebagai wong cilik, bahkan tak segan-segan blusukan ke pelosok tanah Mataram, dua abad sebelum kosakata blusukan menjadi trademark Jokowi.

Namun selepas Perang Diponegoro, tak satupun bangsawan wangsa Mataram baik di Kasultanan Yogyakarta, Kasunanan Surakarta maupun Pakualaman dan Mangkunegaran yang bersedia menyandang nama Diponegoro lagi. Nama itu ibarat aib, pembawa kutukan. Bagi Kasultanan Yogyakarta sendiri, Pangeran Diponegoro bahkan dipandang sebagai sosok pengkhianat. Betapa tidak? Perang Diponegoro merenggut korban tak kepalang. Lebih dari seperlima juta orang Jawa meregang nyawa. Populasi warga Yogyakarta pun menyusut hingga tinggal separuh. Seluruh biaya peperangan di pihak Belanda dibebankan ke Kasultanan. Dan begitu perang usai, Belanda melucuti wilayah Kasultanan terutama di Bagelen (sekarang Purworejo), Banyumas dan Panjer (sekarang Kebumen) sebagai pampasan perang. Kasultanan pun nyaris bangkrut, hampir terhapus dari panggung sejarah. Tak heran jika kebencian pun berakar dalam. Bahkan keturunan Diponegoro dilarang untuk memasuki keraton, kapanpun dan atas alasan apapun. Larangan ini baru dicabut lebih dari seabad kemudian pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kala zaman sudah berubah. Apalagi setelah Presiden Soekarno berinisiatif menggelar peringatan satu abad wafatnya Pangeran Diponegoro pada 1955.

Faktor

Gambar 2. Pertempuran Nglengkong 30 Juli 1826 dalam sketsa. Pasukan gabungan Kasultanan Yogyakarta dan Belanda berhadapan dengan laskar Diponegoro, yang menghasilkan kemenangan terbesar bagi Pangeran Diponegoro pada saat itu. Sumber: Amangkuratprastono, 2014.

Buku-buku sejarah di bangku sekolah menyebut penyerbuanNdalem Tegalrejo itulah penyulut Perang Diponegoro. Ya. Perang Diponegoro memang dimulai dari Tegalrejo. Namun penyerbuan Tegalrejo bukanlah faktor utama penyebab perang. Sang pangeran sendiri dalam Babad Diponegoro, karya sastra biografis yang ditulis Diponegoro selama masa penawanan di pulau Sulawesi dan kini telah diakui secara internasional sebagai salah satu Memory of the World oleh UNESCO, menyebut bibit peperangan besar itu telah bersemi semenjak 12 tahun sebelumnya. Yakni saat kolonialisme Eropa mempertontonkan wajah kurangajarnya dengan mulai mencampuri urusan internal Kasultanan. Inggris, yang saat itu menguasai pulau Jawa sebagai ekses perang Napoleon, mengacak-acak keraton, memprovokasi terbentuknya kadipaten Pakualaman (sebagai pecahan Kasultanan) dan bahkan pada puncaknya melakukan penjarahan akbar pada 1812.

Inggris tak bertahan lama di Yogyakarta. Mulai pertengahan 1816, Belanda kembali dan mengambil-alih seluruh wilayah jajahannya. Dalam keadaan hampir bangkrut, Belanda meneruskan praktik provokasi Inggris. Keraton makin diacak-acak. Minuman keras bergentayangan dimana-mana, membuat para pangeran muda dan tua mabuk tanpa kenal ruang dan waktu. Perselingkuhan opsir-opsir Belanda dengan para putri keraton pun merebak. Sedemikian parah situasinya sehingga Mahandis Y. Thamrin dalam National Geographic Indonesia edisi Agustus 2014 bahkan menyebut Belanda memperlakukan keraton tak ubahnya seperti tempat pelacuran. Di luar keraton, Belanda melakoni model penjajahan gaya batu dengan membebani setiap orang lewat aneka macam pajak yang mencekik leher. Di wilayah Bagelen saja setiap orang dibebani membayar 13 jenis pajak sekaligus! Zaman pun menjadi edan.

Lambat laun kekurangajaran Belanda di dalam dan di luar keraton laksana menyulut bara dalam sekam. Ketidaksukaan dan kebencian merebak dimana-mana, baik di kalangan bangsawan, prajurit, ulama, bupati, demang, santri, petani maupun rakyat kecil pemberani. Kegemaran blusukannya membuat Diponegoro mampu mencermati ketidaksukaan itu. Dan beliau tidak menulikan diri. Sebaliknya, Diponegoro justru mulai membentuk jaringan rahasia dengan mereka untuk membangun kekuatan. Dana pun mulai mengalir, terutama dari para bangsawan dan dari pencegatan demi pencegatan konvoi logistik Belanda yang sekilas terkesan sebagai tindakan sporadis. Dengan dana tersebut dibangunlah kilang mesiu rahasia di pinggiran Yogyakarta dan tempat-tempat lain. Senapan pun mulai dibeli dari Prusia. Organisasi militer mulai dibentuk dengan mengacu pada struktur tentara imperium Turki Utsmani.

Dengan semua persiapan nan senyap itu Perang Jawa memang benar-benar tinggal menunggu waktu. Dan si pemicu pun datanglah, kala Ndalem Tegalrejo diserbu. Tak heran jika hanya dalam dua minggu pasca penyerbuan Tegalrejo, Diponegoro kembali ke kota Yogyakarta, kali ini bersama 6.000 prajurit. Kota dikepung dari segenap penjuru selama sebulan lebih semenjak 7 Agustus 1825. Tak sekedar mengepung dan memutuskan seluruh akses jalan masuk kota, pasukan Diponegoro secara sistematis juga menghujani Yogyakarta dengan mesiu khususnya ke target-target strategis milik Belanda. Yogyakarta menjadi lautan api. Belanda pun kewalahan dan memilih bertahan sekuat tenaga di dalam Benteng Vredeburg sembari menunggu bala bantuan dari Batavia.

Waterloo

Selain faktor-faktor yang bersifat lokal itu, faktor global turut menjadi penyebab Perang Diponegoro. Seperti berkecamuknya Pertempuran Waterloo (1815) di daratan Eropa dan disusul berjangkitnya penyakit demikian rupa hingga menciptakan wabah berskala besar yang berujung pandemi (1817-1824). Cukup menarik bahwa dua faktor global tersebut nampaknya sangat dipengaruhi sebuah peristiwa alamiah dalam skala yang sungguh luar biasa, yakni Letusan Tambora 1815.

Bagaimana bisa demikian?

Gambar 3. Pertempuran Waterloo dalam lukisan William Sadler. Kekalahan Perancis dalam perang besar ini mengubah geopolitik Eropa dan berpengaruh global, termasuk memicu Perang Diponegoro.

Pertempuran Waterloo adalah perang yang menentukan kejatuhan kekaisaran Napoleon Bonaparte. Napoleon adalah produk ajaib revolusi Perancis, revolusi yang semula bertujuan meruntuhkan kekuasaan monarki absolut (mutlak) namun belakangan justru berbuah tegaknya kembali kekuasaan monarki absolut yang lain. Selagi menjabat kaisar Perancis, Napoleon berusaha mewujudkan ambisinya menyatukan seluruh daratan Eropa di tangannya. Ambisi ini menyebabkan Perancis terus-menerus bertempur dengan negara-negara tetangganya, terutama Inggris dan Prusia, yang mewujud dalam sejumlah episode Perang Koalisi. Mulai Perang Koalisi Ketiga (1805) hingga Perang Koalisi Kelima (1809), Perancis memetik banyak kemenangan. Sehingga pada 1812 imperium Perancis mencapai puncak kejayaannya dengan wilayah membentang luas meliputi hampir seluruh daratan Eropa barat, kecuali Portugis dan Eropa tenggara menjadi wilayah imperium Turki Utsmani, yang dianggap sekutu Perancis. Sebaliknya Eropa timur sepenuhnya ada di bawah kekaisaran Rusia. Maka Napoleon dan pasukannya pun bermanuver ke timur.

Namun invasi Napoleon ke Rusia justru membuatnya tersungkur telak. Taktik yang salah, musim dingin yang demikian menggigil membekukan dan sengatan wabah tipus membuat Perancis mengalami kekalahan besar-besaran. Napoleon terpaksa pulang dengan memalukan dari Moskow sembari membawa hanya 4 % dari sisa pasukannya, setara 27.000 orang. Sebagian besar lainnya tewas atau malah tertangkap lawan. Demoralisasi pun menyebar di sekujur Perancis. Akibatnya saat koalisi Prusia, Swedia, Austria dan Jerman bangkit mengeroyok Perancis dengan bantuan Rusia dalam Perang Koalisi Keenam (1812-1814), Napoleon dipaksa bertekuk lutut. Setengah juta pasukan koalisi berbaris rapi memasuki kota Paris pada 30 Maret 1814 dan sang kaisar yang terguling dipaksa pergi ke pengasingan di pulau Elba, lepas pantai barat Italia. Koalisi mendudukkan raja Louis XVIII, monarki sebelumnya, sebagai penguasa Perancis yang baru. Bersama Inggris Raya koalisi pun mulai merancang pertemuan di Wina guna menata ulang geopolitik Eropa sesuai monarki-monarki yang ada sebelum meletusnya perang Napoleon. Pertemuan mulai terlaksana setengah tahun kemudian dan lantas populer sebagai Kongres Wina.

Mendadak berhembus kabar Napoleon Bonaparte meloloskan diri dari pulau Elba. Kabar itu ternyata benar dan sejatinya tak mengejutkan seiring lemahnya penjagaan di pulau Elba. Napoleon mendarat di Perancis pada 1 Maret 1815 dan segera memperoleh dukungan luas dari publik untuk merengkuh kembali tahta kekaisarannya. Raja Louis XVIII terpaksa lari terbirit-birit dari Paris. Begitu imperium Perancis kembali, sasaran pertamanya adalah menghabisi seluruh musuhnya. Maka 280.000 prajurit baru pun disiapkan ditambah dengan 250.000 veteran perang. Napoleon juga mengeluarkan dekrit baru yang memungkinkan 2,5 juta penduduk memasuki legiun-legiun Perancis. Di luar sana, koalisi Austria, Prusia, Rusia dan Inggris Raya pun segera mengorganisir diri. Pasukan besar juga dibentuk dan siap dibenturkan. Perang Koalisi Ketujuh pun siap berkobar.

Malang, kali ini Napoleon (kembali) harus jatuh tersungkur. Serangan dadakannya ke pusat konsentrasi pasukan koalisi di Brussels (Belgia) yang belum sempat menata diri berujung petaka di Waterloo. Hujan sangat deras yang salah musim mendadak mengguyur, membuat jalanan menjadi demikian berlumpur sehingga artileri berat yang menjadi tulang punggung pasukan Perancis tak bisa bergerak leluasa. Tak lama kemudian udara kian mendingin, fenomena aneh untuk rentang waktu yang seharusnya adalah musim panas. Udara yang kian mendingin membuat pasukan Perancis terserang radang dingin hingga menyulitkan gerakannya. Demikian dinginnya sehingga pasukan Perancis sampai-sampai terpaksa membakar setiap sepatu tak terpakai sekedar untuk menghangatkan badan. Ambisi Napoleon membuat lawan-lawannya kocar-kacir sembari berharap Inggris pulang kembali ke negerinya dan Prusia keluar dari koalisi pun lenyap laksana kabut dipanggang sinar Matahari. Justru sebaliknya pasukan Perancis yang mendapat pukulan sangat telak hingga segenap sayapnya lumpuh. Korban pun sangat besar, dari 72.000 prajurit Perancis hanya 29 % yang selamat di akhir pertempuran. Bandingkan dengan kekuatan koalisi, yang masih menyisakan 80 % pasukannya dari yang semula berkekuatan 118.000 prajurit.

Akumulasi faktor-faktor yang tak menguntungkan membuat Perancis tak lagi punya keunggulan hingga terpaksa harus bertekuk lutut di bawah kaki pasukan koalisi di akhir pertempuran pada 18 Juni 1815. Sebagai konsekuensinya Napoleon pun mundur dari tahta dan menyerahkan diri ke Inggris. Inggris lantas mengasingkannya ke pulau Saint Helena di tengah-tengah Samudra Atlantik lepas pantai barat Afrika hingga akhir hayatnya. Kongres Wina pun kembali digelar dan menghasilkan sejumlah keputusan. Salah satunya adalah dikembalikannya tanah Nusantara ke tangan Belanda sekaligus menegakkan kembali pemerintah kolonial Hindia Belanda menggantikan pemerintahan pendudukan Inggris.

Tambora

Gambar 4. Letusan Gunung Pinatubo pada Juni 1991, menjelang puncak letusan katastrofiknya. Debu vulkanik Pinatubo disemburkan jauh tingga hingga memasuki lapisan stratosfer dan sempat menciptakan tabir surya vulkanik meski tak berdampak besar bagi iklim Bumi. Letusan Tambora 1815 pada dasarnya juga demikian, hanya saja 16 kali lipat lebih dahsyat ketimbang Pinatubo. Sehingga dampaknya pun sangat besar. Sumber: USGS, 1991.

Tak sulit untuk melihat hujan sangat deras dan udara yang mendadak mendingin adalah salah satu faktor krusial yang menentukan kekalahan Perancis di medan perang Waterloo. Mengapa kedua hal yang tak menguntungkan Perancis itu terjadi? Pertempuran Waterloo berkecamuk pada 15 Juni 1815. Maka tak sulit untuk mengaitkan jalannya pertempuran dengan peristiwa alamiah berskala luar biasa yang terjadi dua bulan sebelumnya mengambil tempat ribuan kilometer dari Waterloo, yakni di kepulauan Nusantara. Itu adalah meletusnya Gunung Tambora, yang mencapai puncak kedahsyatannya dalam kurun 5 hingga 15 April 1815. Letusan ini menyemburkan 160 kilometer kubik (160.000 juta meter kubik) material vulkanik. Milyaran ton debu vulkanik sangat halus menyembur tinggi hingga mencapai lapisan stratosfer. Bersamanya terbawa serta ratusan juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Paduan keduanya membentuk tabir surya vulkanik yang menyelubungi sekujur penjuru atmosfer Bumi pada ketinggian antara 10 hingga 30 km. Tabir surya ini membuat 25 % cahaya Matahari tereduksi sehingga hanya 75 % saja yang berhasil ditransmisikan ke Bumi. Akibatnya suhu rata-rata permukaan Bumi pun menurun dengan segala akibatnya.

Mudah untuk melihat bahwa hujan salah musim dan sangat deras merupakan bagian dari kacau-balaunya cuaca akibat penurunan suhu rata-rata permukaan. Pun demikian dalam hal udara yang kian mendingin. Hal yang sama juga bertanggungjawab atas terjadinya wabah penyakit berskala global. Udara yang lebih dingin, tebaran debu vulkanik dan cuaca yang kacau membuat sanitasi lingkungan memburuk. Bibit penyakit yang semula hanya endemis di daerah tertentu pun sanggup menyebar lebih jauh. Inilah yang terjadi dengan kolera, yang semula hanya berjangkit di kawasan lembah Sungai Gangga (India). Namun semenjak 1817 kolera mulai tersebar ke kawasan lain. Pada puncaknya hampir seluruh Asia tersapu wabah penyakit mematikan ini, bersama dengan sisi timur Afrika dan sebagian Eropa Timur. Wabah kolera inilah yang menyebabkan kematian massal di tanah Jawa. Demikian banyak penduduk yang meninggal sehingga lahan pertanian tak terurus. Akibatnya bencana kelaparan pun merebak. Wabah ini tak pandang bulu dalam memilih korbannya, kalangan bangsawan dan bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono IV pun turut menjadi sasaran. Tak pelak bencana ini pun berimbas ke ranah sosial-politis, terutama setelah Belanda memilih putra raja (yang baru berusia 3 tahun) menjadi raja selanjutnya bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono V. Karena belum cukup umur, Pangeran Diponegoro ditunjuk sebagai wali raja namun pemerintahan sehari-hari sejatinya dikendalikan Residen Belanda bersama Patih Danurejo IV.

Gambar 5. Kaldera Gunung Tambora yang demikian luas dan dalam. Cekungan air berwarna kehijauan didasarnya adalah Danau Motilahalo. Kaldera ini terbentuk dalam Letusan Tambora 1815 yang dahsyat, hampir 2 abad silam. Kedahsyatannya memicu beragam dampak sosial-politis, termasuk Pertempuran Waterloo dan juga Perang Diponegoro. Sumber: Wahibur Rahman, dalam Geomagz vol. 4 no. 2 (Juni 2014).

Kita bisa beranda-andai bagaimana jika pada saat itu Gunung Tambora tak meletus dahsyat? Takdir memang adalah garis nasib yang sepenuhnya menjadi kuasa Allah SWT. Namun jika Letusan Tambora 1815 tak terjadi, jalannya Pertempuran Waterloo mungkin bakal berbeda. Mengingat sebelum pasukan Prusia berhasil berkonsolidasi dengan rekan-rekan koalisinya, kekuatan koalisi di Waterloo hanyalah berjumlah 68.000 prajurit. Sementara Perancis sedikit lebih unggul dengan 72.000 prajurit dan masih dilengkapi artileri berat yang lebih baik. Maka andaikata letusan dahsyat itu tak berlangsung, Perancis mungkin bisa mengungguli kekuatan koalisi. Sejarah berkemungkinan berubah total. Kongres Wina bisa urung mencapai hasilnya dan Belanda dengan penjajahan gaya batunya mungkin takkan datang ke tanah Jawa pada pertengahan 1816 itu.

Letusan Gunung Toba memang letusan terdahsyat dalam 27,8 juta tahun terakhir. Namun peristiwa itu terjadi pada 74.500 tahun silam atau jauh di luar rentang masa sejarah yang tercatat.

Tak ada yang menyangsikan kedahsyatan Letusan Krakatau 1883. Gunung berapi mungil di Selat Sunda itu memuntahkan tak kurang dari 20 kilometer kubik material vulkanik. Sebagian diantaranya dihembuskan hingga setinggi 40 km ke dalam atmosfer. Jika seluruhnya dianggap berbentuk debu dan kita tuangkan ke dalam wilayah DKI Jakarta sembari dipadatkan demikian rupa, maka seluruh wilayah itu akan terbenam dalam timbunan pasir setinggi 30 meter. Namun yang paling dikenang dari Krakatau adalah tsunaminya. Ambruknya hampir seluruh tubuh gunung seiring letusan dahsyatnya membentuk kaldera bawah laut disertai hempasan awan panas dalam jumlah sangat besar. Efek langsungnya adalah tsunami, yang berderap ke kedua belah sisi Selat Sunda dan kala menghempas ke pesisir bahkan sampai setinggi 37 meter seperti terjadi di Merak. Korban jiwa yang direnggutnya amat besar. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mencatat ada 295 desa dan kota yang hancur akibat terjangan tsunami dengan total korban jiwa resmi sebesar 36.417 orang. Tetapi jumlah korban jiwa dalam perhitungan tak resmi lebih besar, bahkan mungkin menyentuh angka 120.000 jiwa.

Gambar 1. Kawah raksasa (kaldera) yang menghiasi puncak Gunung Tambora saat ini, diabadikan dari udara dengan arah pandang ke timur laut. Kawah raksasa berdiameter 7 km sedalam 1.250 meter ini merupakan jejak paling kentara dari kedahsyatan Letusan Tambora 1815. Di dasar kawah raksasa ini tepatnya di sisi utaranya berdirilah si anak Tambora, yakni kerucut Doro Api Toi (DAT). Sumber: Pratomo, 2006.

Meski demikian Krakatau 1883 bukanlah letusan terdahsyat, baik bagi Indonesia maupun dunia. Hampir dua abad silam tahun silam, tepatnya di bulan April 1815, sebuah gunung berapi lain yang juga berada di Indonesia meletus dengan skala kedahsyatan jauh lebih besar. Volume material vulkanik yang dimuntahkannya delapan kali lipat lebih besar ketimbang Krakatau 1883. Demikian banyak debu yang ditebar ke langit sehingga ia mampu menciptakan kekacauan cuaca di segenap penjuru permukaan Bumi hingga berdampak besar pada peradaban kita. Tak heran jika letusan ini disebut sebagai salah satu letusan pengubah dunia. Hingga tahun 2013 letusan gunung berapi ini merupakan letusan gunung berapi terdahsyat di muka Bumi dalam kurun 26.500 tahun terakhir terhitung semenjak amukan Gunung Taupo (Selandia Baru), sebelum kemudian riset terkini memperlihatkan letusan Gunung Rinjani (juga di Indonesia) di sekitar tahun 1258 ternyata lebih besar.

Itulah Gunung Tambora. Guna membayangkan seperti apa kedahsyatannya, mari imajinasikan kita menjadi penguasa dunia dan memunguti satu persatu hululedak nuklir yang disembunyikan di seluruh negara nuklir terkini. Kita kumpulkan semuanya di satu tempat lalu diledakkan secara bersama-sama. Energi Letusan Tambora 1815 masih lebih besar ketimbang kekuatan ledakan seluruh hululedak nuklir tersebut. Jika tak jua terbayang, mari imajinasikan kita sedang berhadapan dengan kengerian ledakan bom nuklir yang meluluhlantakkan kota Hiroshima (Jepang) pada 6 Agustus 1945 silam. Untuk ukuran manusia, ledakan ini sudah sangat besar. Tetapi tidak demikian bagi gunung berapi. Kumpulkan 1.350.000 butir bom nuklir yang identik dengan bom nuklir Hiroshima dan ledakkan semua di satu lokasi pada saat yang sama. Barulah kita akan memperoleh skala energi yang sama dengan Letusan Tambora 1815.

Jika begitu dahsyatnya, mengapa Letusan Tambora 1815 tidak se-ngetop Krakatau 1883? Salah satu jawabannya adalah karena letusan ini terjadi dalam kerangka waktu yang ‘salah’ dalam sejarah umat manusia. Sistem telekomunikasi global baru tercipta lebih dari 60 tahun pasca letusan Gunung Tambora, dalam rupa telegraf yang berbasis teks kode morse (bukan suara). Bagi kita di masa kini, teknologi komunikasi yang satu ini adalah antik sekaligus primitif. Namun untuk kurun 1,5 abad silam, telegraf adalah sarana komunikasi termaju pada zamannya yang memungkinkan umat manusia di berbagai penjuru saling bertukar informasi, juga bergosip. Hanya beberapa minggu setelah jaringan global telegraf tersambung melalui sistem kabel laut, Gunung Krakatau meletus dahsyat. Sehingga informasi letusannya cepat tersebar. Sebaliknya saat Gunung Tambora meletus, kecepatan penyebaran informasi sangat lambat sehingga kabar terawal letusan tersebut baru tiba di London (Inggris) lebih dari enam minggu kemudian.

Jadi, bagaimana sih letusan kolosal hampir dua abad silam itu?

Yogyakarta

Gambar 2. Gunung Tambora di batas pandangan mata, diabadikan dari perairan Laut Flores yang permai di sebelah utaranya. Aktivitas snorkeling nampak di latar depan. Garis putus-putus menunjukkan perkiraan bentuk tubuh gunung berapi ini sebelum 1815. Letusan Tambora 1815 memenggal bagian teratas tubuh gunung bersamaan dengan terbentuknya kaldera raksasa berdiameter 7 km. Sumber: Awang Satyana, 2008.

Tengara letusan dahsyat itu terasa di kota Buitenzorg (kini Bogor), pusat pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur (kini Indonesia), pada Kamis fajar 6 April 1815 . Kala Thomas Stanford Raffles, kepala pemerintahan pendudukan Inggris di Hindia Timur, membuka pintu kamarnya di istanaBuitenzorg setelah diketuk berulang-ulang, matanya langsung bersirobok dengan ajudannya yang tegang tanpa sanggup menyembunyikan wajah piasnya. Laporannya mengejutkan. Ada suara dentuman berulang-ulang setiap seperempat jam sekali yang nampaknya datang dari arah timur. Di tengah puncak permusuhan Inggris dan sekutunya terhadap koalisi Belanda-Perancis, intuisi militer Raffles segera bangun. Mungkin musuh telah melancarkan serangan mendadak terhadap posisi-posisi militer Hindia Timur. Apalagi kabar lolosnya kaisar Napoleon Bonaparte dari pengasingannya di pulau Elba telah menyebar.

Sekitar 400 km ke arah timur dari Buitenzorg, yakni di Yogyakarta, residen Crawfurd telah terlebih dahulu terjaga. Ia juga sangat terganggu dan gelisah mendengar suara dentuman demi dentuman keras terus bersahutan mirip rentetan tembakan meriam. Ia juga beranggapan telah terjadi agresi mendadak dari musuh. Komandan militer setempat segera diperintahkannya bersiaga penuh. Satu detasemen pasukan sontak dikirim ke pos-pos militer terluar, untuk memastikan apa yang sedang terjadi sekaligus bersiap menjadi bala bantuan awal. Namun di tengah kesiapsiagaan dan kegelisahan itu, pelan namun pasti udara Yogyakarta mulai berubah. Matahari tak jua kunjung benderang meski jam telah beranjak siang, alih-alih justru kian memburam dan memerah. Tak lama kemudian langit laksana ditutupi mendung sehingga situasi kian meremang. Mendung itu lalu mulai mencucurkan muatannya, namun bukannya air hujan segar yang berjatuhan, alih-alih debu halus kering yang memedihkan mata. Belakangan air hujan juga tercurah, tapi bersamanya turun pula butir-butir es. Hujan es di Yogyakarta yang tropis? Yang benar saja!

Baik Raffles maupun Crawfurd tak sebersit pun menyadari bahwa ribuan kilometer di sebelah timur, di salah satu sudut gemerlap kepulauan Sunda Kecil, surga sedang berubah menjadi neraka. Sebuah malapetaka berskala luar biasa sedang melanda pulau Sumbawa. Segenap penjuru kerajaan Sanggar, Papekat serta Tambora dicekam kepanikan dan ketakutan tiada tara. Selama berhari-hari Matahari tak menampakkan batang hidungnya sehingga suasana senantiasa gulita. Suara menggelegar terus terdengar dan saling berkejaran. Tanah bergetar berulang-ulang tanpa henti laksana diguncang-guncang dari perut bumi. Udara tak lepas dari hawa maut, sesak oleh pekatnya asap belerang dan debu. Hujan debu mengguyur deras, membedaki apa saja yang ditimpanya. Di tengah horor tersebut, kaki langit nampak memerah menampakkan siluet besar mengerucut yang menandakan Gunung Tambora, gunung yang selama ini dikenal ramah. Tiga sungai api meleleh dari puncaknya, membakar hutan serta padang rumput yang dilintasinya. Masing-masing hulunya memancurkan cipratan-cipratan bara pekat ke udara bersamaan dengan kolom asap tebal menembus ketinggian, seperti lengan raksasa yang sedang meninju langit. Suasana mencekam kian menjadi-jadi seiring sambaran kilat berkali-kali.

Gambar 3. Kiri: ilustrasi Greg Harlin yang menggambarkan saat-saat jelang letusan dahsyat Gunung Tambora pada bulan April 1815. Puncak gunung terus mengepulkan asap dan api, sementara penduduk yang panik bergegas mengungsi. Kanan: endapan debu dan awan panas Letusan Tambora 1815 setebal 4 meter, tersingkap di Desa Tambora yang terletak di kaki gunung berapi itu. Sumber: Johnston, 2012; Sutawidjaja dkk, 2006.

Puncaknya terjadi pada 10 hingga 11 April 1815. Dentuman demi dentuman dengan suara jauh lebih keras hingga sanggup menggetarkan rumah dan merobek gendang telinga terus terjadi secara beruntun. Langit kini tak hanya mencucurkan debu halus dengan derasnya, namun juga butir-butir kerikil dan gumpalan-gumpalan batu apung beraneka ukuran. Tak hanya daratan pulau Sumbawa, perairan Laut Flores di sebelah utaranya pun direjam habis hujan kerikil dan batu apung sadis. Para nakhoda kapal, baik kapal dagang maupun kapal perang, berjibaku setengah mati berjuang mengendalikan laju kapalnya melewati perairan penuh batu apung menghitam yang sangat sulit dilintasi. Para awak kapal pun berjibaku membersihkan geladak kapalnya dari timbunan debu, kerikil dan batu apung bercampur air secepat mungkin, mencoba mengalahkan derasnya hujan debu dan kerikil. Beberapa kali laut menggila, mengirimkan gelombang aneh yang demikian tinggi melebihi atap rumah. Tsunami itu berulang kali datang menerjang dan menenggelamkan sejumlah kapal yang tak siap dengan perubahan keadaan. Situasi ini terus berlangsung hingga 15 April 1815.

Kaldera

Sebelum 1815, Gunung Tambora adalah gunung tertinggi di seantero pulau Sumbawa yang puncaknya menjulang hingga ketinggian sekitar 4.000 meter dpl (dari paras air laut) atau lebih. Demikian tingginya sehingga ia pun terlihat jelas dari pantai timur pulau Bali meski tempat itu berjarak 300 km lebih dari gunung. Gunung yang seakan memaku bumi pulau Sumbawa ini dikenal kalem. Dalam catatan Global Volcanism Program Smithsonian Institution, letusan Gunung Tambora yang terakhir dan tergolong besar terjadi sekitar tahun 740 merujuk pada pertanggalan karbon radioaktif. Selepas itu selama lebih dari seribu tahun kemudian Tambora terlihat lebih ramah dan bersahabat. Dipadukan dengan kesuburan tanah dan melimpahnya air bersih, tak heran bila di kemudian hari kawasan seputar kaki Tambora menjadi lokasi hunian favorit manusia. Pada puncaknya tiga kerajaan pun tumbuh berkembang di sini, masing-masing Sanggar, Papekat dan Tambora. Ketiganya memiliki tata administrasinya masing-masing dengan kegiatan pertanian dan perdagangan yang sibuk. Hubungan perdagangan dengan mancanegara pun terjalin erat dan saling menguntungkan, seperti dengan Kampuchea (Kamboja) dan juga kekaisaran Cina.

Semua berubah secara dramatis pada April 1815. Letusan kolosal menyebabkan puncak Gunung Tambora terpangkas hebat sehingga ketinggiannya berkurang jadi 2.850 meter dpl. Tak hanya itu, kini puncaknya pun berganti dengan sebentuk kawah raksasa (kaldera) berdiameter sekitar 7 km dengan kedalaman maksimum 1.250 meter, menjadikannya kaldera terdalam di seantero muka Bumi. Di kemudian hari, sebagian kecil dasar kaldera ini digenangi air hujan khususnya di sisi barat daya. Genangan tersebut bernama Danau Motilahalo, yang secara kasar memiliki panjang 800 meter, lebar 200 meter dan kedalaman air maksimum 15 meter. Dipagari dinding-dinding kaldera yang menjulang tinggi dan keras, danau Motilahali tak memiliki saluran pengeluaran seperti halnya sungai atau sejenisnya. Sehingga airnya hanya bisa meninggalkan danau dengan cara menguap maupun meresap ke dalam tubuh gunung. Sementara di sisi utara dasar kaldera berdiri kerucut gunung anak Tambora yang berjuluk Doro Api Toi. Kerucut ini muncul pasca 1815, tepatnya dalam dalam letusan 1830, dan kini menjulang setinggi sekitar 100 meter dari dasar.

Kaldera Tambora terbentuk kala 160 kilometer kubik material vulkanik dimuntahkan gunung berapi ini dalam letusan dahsyatnya diantara 5 hingga 15 April 1815. Dibanding Krakatau 1883 yang ‘hanya’ mengeluarkan 20 kilometer kubik, jelas material vulkanik Letusan Tambora 1815 delapan kali lipat lebih banyak. Bila semuanya dianggap berbentuk debu dan dituangkan ke wilayah DKI Jakarta serta dipadatkan demikian rupa, maka hampir seluruh propinsi yang juga ibukota RI ini akan tenggelam di bawah timbunan setebal 242 meter. Tak ada satupun bangunan yang tersisa, karena bangunan tertinggi di sini yakni Monas (Monumen Nasional) pun ‘hanya’ setinggi 115 meter. Hanya ada 2 puncak bangunan pencakar langit yang masih tersembul, yakni Ciputra World Jakarta (tinggi 257 meter) dan Wisma 46 (tinggi 250 meter).

Jika suhu rata-rata magma saat tepat keluar dari perutbumi dianggap sebesar 850 derajat Celcius, maka energi termal yang dikeluarkan dalam Letusan Tambora 1815 ini mencapai 27.000 megaton TNT. Ini masih lebih besar dibandingkan jumlah energi potensial yang tersimpan dalam seluruh hululedak nuklir di Bumi di puncak Perang Dingin pada 3 dasawarsa silam, yang ‘hanya’ 20.000 megaton TNT. Jika kita bandingkan dengan ledakan bom nuklir Hiroshima, yang ‘hanya’ berenergi 20 kiloton TNT, jelas bahwa energi Letusan Tambora 1815 adalah 1,35 juta kali lipat lebih besar.

Gambar 4. Jejak rumah yang terkubur di bawah pasir beserta sejumlah barang yang berhasil ditemukan didalamnya. Pasir tersebut adalah endapan awan panas Letusan Tambora 1815. Sisa-sisa kayu kerangka rumah yang telah rebah dan berubah menjadi arang (terkarbonisasi) menunjukkan awan panas yang mengubur kaki Gunung Tambora masih bersuhu sangat tinggi. Sumber: Johnston, 2012.

Sebagian besar material vulkanik Tambora dihempaskan ke barat-barat laut dari gunung. Awan panasnya mengganyang daerah seluas hingga 874 kilometer persegi disekitarnya, yang menghasilkan endapan batu, kerikil dan pasir panas setebal rata-rata 7 meter. Demikian banyak volume awan panas Tambora sehingga sebagian bahkan sampai ke pesisir Laut Flores dan terus mengalir ke dalam laut, menciptakan tsunami. Tsunami ini berderap dengan kecepatan hingga 250 km/jam dan melanda pesisir Jawa Timur bagian utara dengan ketinggian 1 hingga 2 meter serta pesisir Maluku dengan tinggi 2 meter atau lebih. Jika tinggi tsunami di kedua tempat tersebut diekstrapolasikan untuk mengetahui tinggi tsunami di pesisir utara pulau Sumbawa, maka diperkirakan tingginya mencapai lebih dari 4 meter.

Kematian

Ada banyak sekali dampak Letusan Tambora 1815 baik di ranah ekonomi, politik, sosial dan budaya. Namun di sini penulis hanya ingin fokus pada hal paling menggetarkan: kematian. Untuk dipahami, korban jiwa akibat Letusan Tambora 1815 tak hanya mereka yang tewas dihempas awan panas maupun tercekik gas dan debu vulkanik, namun juga mereka yang dilanda kelaparan massif seiring berkurangnya bahan pangan, pun mereka yang dilanda penyakit menular seiring sanitasi lingkungan yang memburuk pasca letusan.

Sensus yang dilakukan Zollinger di tahun 1847 atas nama pemerintah kolonial Hindia Belanda (saat itu tanah Indonesia sudah dikembalikan ke Belanda sebagai hasil Kongres Wina 1815) menunjukkan dramatisnya dampak Letusan Tambora 1815. Korban jiwa langsung akibat letusan, yakni yang terkubur awan panas dan debu vulkanik tebal, mencapai 10.100 jiwa. Sementara korban jiwa tak langsung, yakni kelaparan dan wabah diare massif yang berkecamuk di pulau Sumbawa, mencapai 37.825 jiwa. Namun jika korban jiwa yang berjatuhan di pulau Lombok, Bali, Flores, Jawa bagian timur dan pulau-pulau lain disekitarnya akibat terjangan tsunami, kelaparan dan diare juga diperhitungkan, angkanya mungkin mencapai lebih dari 70.000 jiwa.

Zollinger juga mencatat banyaknya penduduk yang hengkang dari pulau Sumbawa, termasuk yang terpaksa dijual oleh orang tuanya, sebanyak 36.275 orang. Dengan demikian Letusan Tambora 1815 menewaskan 35 % populasi dan memaksa 26 % sisanya hengkang keluar pulau. Sehingga hanya menyisakan 39 % populasi yang masih berkukuh tinggal di tanah yang semula subur namun kini mendadak segersang Bulan.

Gambar 5. Dramatisnya perbedaan panorama atmosfer Bumi pasca letusan dahsyat gunung berapi (kanan) dibanding saat normal (kiri) saat diabadikan melalui pesawat ulang-alik. O = lapisan ozon dan Cb = puncak awan cumulonimbus (awan hujan). Pada saat "kotor", nampak terlihat aerosol sulfat (A) yang membentuk lapisan ganda di bawah lapisan ozon, jauh di dalam stratosfer. Aerosol sulfat ini tembus pandang, namun berkemampuan besar menghalangi sinar Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi hingga persentase tertentu. Sumber: NASA, 1992 & 1997.

Begitu banyaknya nyawa yang terenggut membuat dua kerajaan di kaki gunung, yakni kerajaan Papekat dan Tambora, lenyap dari pentas sejarah karena seluruh penduduknya tewas. Sementara kerajaan Sanggra kehilangan hampir 88 % penduduknya. Tiga kerajaan lainnya di pulau Sumbawa yang tak berbatasan langsung dengan Gunung Tambora, masing-masing kerajaan Dompo, Sumbawa dan Bima pun terpukul telak. Dompo kehilangan 50 % penduduk, sementara Sumbawa 33 % dan Bima 25 %. Di luar korban manusia, sebanyak 75 % populasi ternak Sumbawa tersapu bersih akibat letusan. Pun demikian koloni lebah madu dan burung.

Namun Letusan Tambora 1815 tak hanya berdampak lokal. Seluruh permukaan Bumi merasakan akibatnya seiring terlepasnya tak kurang dari 160 juta ton gas belerang ke atmosfer bersama dengan semburan material vulkanik hingga setinggi 43 km. Ia lantas bereaksi dengan uap air dan gas oksigen membentuk lebih dari 300 juta ton aerosol sulfat. Bersama dengan partikel debu vulkanik, aerosol sulfat pun membentuk tabir surya pun terbentuk, yang merentang di antara ketinggian 10 hingga 30 km dari paras laut dan menyebar di segenap penjuru lapisan troposfer-stratosfer. Akibatnya 25 % sinar Matahari diserap dan dipantulkan kembali oleh tabir surya ini ke antariksa. Sehingga intensitas sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi menurun.

Pada saat yang sama Bumi sedang menjalani periode minimum Dalton, yakni menurunnya suhu rata-rata permukaan Bumi yang disebabkan oleh faktor astronomik dalam rupa berkurangnya jumlah bintik Matahari (sunspot). Intensitas sinar Matahari di permukaan Bumi dalam periode minimum Dalton sebelum 1815 adalah 1.363 watt per meter persegi, atau turun 3 watt per meter persegi dibanding normalnya. Letusan Tambora 1815 menghasilkan penurunan tambahan hingga 7 watt per meter persegi. Sehingga pada puncaknya intensitas sinar Matahari di Bumi sempat menyentuh titik terendah 1.356 watt per meter persegi, atau turun 0,7 % di bawah normal.

Konsekuensinya terjadilah pendinginan global, yakni penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi. Pendinginan global terparah terjadi pada tahun 1816 yang mencapai 0,7 derajat Celcius di bawah suhu rata-rata semula. Akibatnya tutupan es dan suhu sangat dingin terus berlanjut di kawasan subtropis meski musim seharusnya telah berganti ke musim panas. Karena itu tahun 1816 dikenang sebagai Tahun Tanpa Musim Panas. Tanpa bisa ‘dicuci’ oleh air hujan, tabir surya Tambora bertahan hingga bertahun-tahun kemudian sebelum gravitasi Bumi lambat-laun menariknya turun ke kembali ke permukaan Bumi. Selama itu pula pendinginan global berlangsung dan memicu kekacauan cuaca. Konsekuensinya produksi pangan pun sangat terganggu dan sanitasi lingkungan memburuk sehingga wabah penyakit mudah terbesar, bahkan melampaui wilayah tradisionalnya.

Berapa korbannya? Di daratan Amerika Serikat, kelaparan besar membuat sebuah wilayah seperti Vermont saja kehilangan antara 10.000 hingga 15.000 jiwa penduduknya hanya di tahun 1816. Belum wilayah dan kota yang lain. Di Eropa, kelaparan juga merebak dimana-mana dan menjadi bencana kelaparan terparah dalam abad ke-19. Kekurangan makanan dan memburuknya lingkungan membuat penyakit merajalela. Misalnya di Irlandia, dimana 1,5 juta orang disergap wabah tipus sepanjang tahun 1817 hingga 1819 dengan sekitar 100.000 jiwa diantaranya meregang nyawa. Wabah tipus juga berkecamuk hebat di Eropa bagian tenggara dan pesisir Laut Tengah bagian timur. Jumlah korban jiwa di kedua wilayah terakhir itu tak diketahui, namun diduga sebanding dengan Irlandia.

Gambar 6. Ilustrasi penyebaran tabir surya (debu dan aerosol sulfat) Tambora di lapisan stratosfer beserta lokasi-lokasi di mancanegara yang mengalami bencana kelaparan dahsyat dan/atau merebaknya wabah penyakit mematikan sebagai imbas dari berkurangnya sinar Matahari yang diterima permukaan Bumi akibat penyerapan dan pemantulan oleh tabir surya Tambora. Sumber peta: Wohletz, 2008.

Sebaliknya di Asia wabah kolera-lah yang bertahta. Penyakit ini semula endemis di lembah sungai Gangga semata. Namun kombinasi cuaca yang kacau-balau, suhu lebih dingin dan kekurangan nutrisi yang parah membuat penyakit ini menyebar luas ke luar India mulai 1817 dan bertahan hingga tujuh tahun kemudian. Pada puncaknya wabah ini merajalela di kawasan yang sangat luas mulai dari pesisir timur Afrika dan pesisir timur Laut Tengah di sebelah barat hingga Asia Tenggara dan Jepang di sebelah timur serta merangsek hingga masuk ke jantung kota Moskow (Russia) di sebelah utara. Korbannya? Sulit diperkirakan, namun diduga kuat mencapai ratusan ribu jiwa di berbagai tempat. Sebagai contoh, di Bangkok (Thailand) saja 30.000 orang meregang nyawa kala wabah ini berkecamuk, sementara di Semarang (Indonesia), 1.225 orang tersapu bersih dari permukaan Bumi hanya dalam tempo 11 hari saja di bulan April 1821 akibat serangan wabah ini.

Jadi, berapa jumlah kematian akibat Letusan Tambora 1815 secara keseluruhan? Sayangnya hingga saat ini belum bisa diketahui secara pasti. Namun dengan merangkai kepingan-kepingan fakta di atas, maka jelas mencapai ratusan ribu jiwa. Dan diduga mungkin melampaui angka 1 juta jiwa. Korban jiwa sebanyak ini harus dilihat dalam perspektif awal abad ke-19 dimana populasi manusia secara keseluruhan jauh lebih sedikit dibanding masa kini karena baru menyentuh angka semilyar. Jika Letusan Tambora 1815 benar menewaskan sejuta orang, baik secara langsung maupun tak langsung, jelas bahwa dari setiap 1.000 orang di Bumi saat itu, maka 1 orang diantaranya tewas sebagai korban jiwa Letusan Tambora 1815. Maka bolehlah kita sebut bahwa Gunung Tambora telah menaklukkan dunia dengan letusan 1815-nya yang kolosal.

Hari ini, Gunung Tambora kembali ke tabiat kalemnya. Hari ini pula tak banyak yang mengetahui apa yang pernah dipertontonkan gunung ini secara dramatis pada hampir dua abad silam. Ironisnya, ketidaktahuan yang sama bahkan dijumpai pula di kalangan penduduk yang kini bermukim di kaki gunung berapi tersebut. Namun terlepas dari ketidaktahuan tersebut, Letusan Tambora 1815 mendemonstrasikan betapa sebuah letusan dahsyat gunung berapi mampu berdampak demikian besar bagi peradaban manusia.

Referensi

1. Sutawidjaja, Sigurdsson, Abrams. 2006.Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from the 1815 Eruption of Tambora Volcano. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 1, Maret 2006, hal. 49-57.

2. Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia, vol. 1, no. 4, Desember 2006, hal. 209-227.

3. Johnston. 2012. Up from the Ashes. Popular Archaeology, vol. 7, Juni 2012.

4. Wohletz. 2008. Were the Dark Ages Triggered by Volcano-Related Climate Change? Los Alamos National Laboratory.

http://ekliptika.wordpress.com/2014/04/30/tambora-penakluk-dunia-yang-nyaris-terlupa/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: