Lumpur Lapindo Sidoarjo Indonesian Petroleum Association


BAB I

PENDAHULUAN  

Ekologi pertama kali diperkenalkan sebagai istilah oleh Haeckel seorang zoolog, berkembangsaan Jerman tahun 1869. Pada akhir abad sembilan belas terbagi menjadi dua cabang; (1) cabang anti mekanistik, pendekatan holistik biologis, dipelopori oleh Ernes Haeckal; (2) cabang berpendekatan baru cenderung bersifat ekonomis, disebut ekonomi energi, yang memusatkan pada kelangkaan dan sumberdaya alam takterbarukan. Dua cabang ini melebur menjadi satu pada tahun 1970-an. Unsur ilmiah dalam ekonomi energi mendapatkan dorongan biologis atas dasar gerakan ekologis. Senada dengan pendapat tersebut dinyatakan bahwa ekologi pada waktu awal dasar perkembangannya lebih menitikberatkan pada habitat dan organisme hidup di luar manusia. Ekologi berkembang sendiri-sendiri, antar ekologi hewan dan organisme hidup di luar manusia. Ekologi berkembang sendiri-sendiri, antara ekologi hewan dan ekologi tumbuhan, tetapi setelah dirasakan manfaatnya, maka dikembangkan secara bersama-sama. Sejak itu pula manusia sebagai salah satu unsur organisme hidup mulai ditonjolkan dalam ekologi. Ekologi secara etimologis adalah suatu istilah yang berasal dari dua kata bahasa Yunani: ”oikos” yang artinya rumah atau tempat untuk hidup dan ”logos”, artinya ilmu. Dengan demikian, secara harfiah ekologi adalah suatu ilmu yang mempelajari organisme-organisme pada rumahnya.

Manusia menjadi bagian dalam sistem lingkungan. Dengan demikian, ekologi mencakup interaksi antara organisme hidup, dimana manusia menjadi salah satu komponennya dengan lingkungannya. Manusia adalah sejenis makhluk hidup, oleh kerena itu manusia juga beinteraksi dengan alam lingkungannya. Manusia mempengaruhi lingkungan hidupnya, atau ia juga mengusahakan sumber daya alam lingkungannya untuk mempertahankan jenisnya, dan sebaliknya manusia dipengaruhi oleh lingkungannya. Tidak berbeda dengan organisme / makhluk hidup lainnya, manusia bersama dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu ekosistem.

A. Manusia Komponen Lingkungan yang Dominan

Lingkungan hidup manusia juga terdiri dari unsur-unsur biotik dan abiotik. Interaksi antara manusia denagn lingkungan hidupnya, tidak hanya ditentukan oleh jenis dan jumlah benda hidup dan mati dari lingkungan alam, melainkan juga oleh kondisi dan sifat benda biotik dan abiotik. Di dalam kesatuan ekosistem, kedudukan manusia adalah sebagai bagian dari unsur-unsur lain yang tak mungkin terpisahkan manusia harus menjaga keserasian hubungan timbal balik atau interaksi antara manusia dengan lingkungannya, sehingga keseimbangan ekosistem tidak terganggu. Pengaruh manusia terhadap lingkungannya dapat mengakibatkan tiga kemungkinan, kepada kualitas lingkungannya, yaitu deteriorasi, tetap lestari, dan memperbaiki.

B. Manusia Mungkin Jadi Perusak Lingkungan

Yang pertama akan terjadi bila manusia mengusahakan sumber daya alam hanya didasarkan pada prinsip jangka pendek, yaitu untuk menghasilkan produk sebanyak mungkin pada watu yang sesingkat mungkin dan modal sedikit mungkin. Usaha semacam itu memang mendatangkan kemakmuran kepada generasinya. Akan tetapi pengaruhnya terhadap alam sekitarnya yang didasari oleh pertimbangan semacam itu dapat menimbulkan detorasi lingkungan. Kenyataan sebagai yang diuraikan diatas sebagai contoh yakni; munculnya Lumpur Panas di Sidoarjo, Jawa Timur.

C. Manusia Sadar Akan Kekeliruannya

Yang kedua manusia telah sadar bahwa manusia hanya merupakan sebagaian dari keseluruhan ekosistem. Manusia sadar bahwa hakekat kehidupan dan kelangsungan eksistensinya sangat teragantung dari konsisi lingkungan atau habitatnya. Sedangkan sebaliknya habitatnya tergantung banyak pula pada sikap manusia dalam mempengaruhi lingkungannya itu. Oleh karen itu manusia dalam tingkah lakunya selalu akan menjaga agar keseimbangan sistem ekologi tidak tergoncangkan.

BAB II

HOT MUD FLOW IN EAST JAVA, INDONESIA

1.      Dinamika Arus Pesisir Pantai Pasuruan Mendorong Aliran Lumpur Sidoarjo

Wilayah pesisir merupakan lingkungan yang dinamis, unik dan rentan terhadap perubahan lingkungan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pesisir antara lain adalah aktifitas di daratan, pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, peningkatan permintaan akan ruang dan sumberdaya serta dinamika lingkungan pantai. Disamping itu perairan pesisir dipengaruhi oleh interaksi dinamis antara masukan air dari lautan (ocean waters) dan air tawar (freshwater). Aliran air tawar ke laut merupakan fungsi dari karakteristik daerah aliran sungai, aliran air permukaan dan aliran air tanah. Selanjutnya neraca air atau keseimbangan air tawar dan laut dipengaruhi oleh laju presipitasi dan evapotranspirasi. Berbagai macam aktivitas manusia yang dilakukan baik di daratan maupun di lautan mendorong terjadinya perubahan lingkungan di wilayah pesisir. Pengaruh eksternal yang bersifat alamiah terhadap dinamika pantai yaitu energi samudera, sedangkan masukan material berupa sedimen, partikel dan pollutant umumnya melalui aliran sungai. Demikian pula upaya pembuangan semburan lumpur PT. Lapindo ke laut melalui Kali Porong di Selat Madura. Jika hal itu terjadi maka kondisi inipun menjadi bagian dari pengaruh eksternal terhadap dinamika lingkungan pantai, namun sejauh mana pengaruhnya terhadap kawasan pesisir, tergantung dari pemanfaatan lahan baik di sekitar muara Kali Porong maupun di pesisir pantai Sidoarjo dan sekitarnya. Adanya input material pada suatu lingkungan perairan dengan kondisi pantai stabil maupun labil, tidak selamanya membawa dampak negatif terhadap perkembangan lingkungan pantai.

Perubahan lingkungan wilayah pesisir lebih disebabkan karena adanya proses-proses alami yang secara kontinu atau periodik mempengaruhi wilayah pesisir seperti fluktuasi parameter oseanografi dan dinamika iklim setempat. Erosi pantai yang menyebabkan terjadinya perubahan garis pantai, lebih dominan disebabkan oleh karena adanya pengaruh alami tersebut seperti gelombang, arus, pasang-surut dan pasokan sedimen. Faktor alami yang menjadikan kawasan pesisir begitu dinamis yaitu tidak lain karena adanya faktor di atas tadi. Demikian juga aliran lumpur yang bergerak ke arah laut sangat dipengaruhi oleh dinamika arus dan gelombang di pesisir pantai baik dari bagian timur Kali Porong (Pasuruan) maupun daerah pesisir pantai Sidoarjo itu sendiri. Lahan pesisir terbentuk dan berubah dari waktu ke waktu mengikuti aktifitas energi gelombang dan material ke dalam lingkungan wilayah pesisir.

Kondisi Geografis Dan Data Dua Dekade Penelitian di Selat Madura

Secara geografis perairan Selat Madura termasuk kedalam tipe perairan semi tertutup dari aktifitas gelombang laut pada musim barat. Namun demikian pada musim timur pengaruh gelombang ini cukup berdampak di pesisir pantai bagian selatan Pulau Madura (PPPGL 1989). Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa perubahan lingkungan wilayah pesisir lebih disebabkan karena adanya proses-proses alami yang secara kontinu atau periodik mempengaruhi wilayah pesisir seperti fluktuasi parameter oseanografi dan dinamika iklim setempat. Faktor alami yang menjadikan kawasan pesisir begitu dinamis antara lain yaitu karena adanya gelombang, arus, fluktuasi muka air laut dan pasokan material sedimen. Dari data dua dekade hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan yaitu tahun 1989 dan tahun 1999 antara lain data dinamika arus pesisir pantai dan data batimetri daerah Jawa timur khususnya di daerah bagian timur Kali Porong (Pasuruan), mempunyai arti penting sebagai masukan untuk bahan pertimbangan dalam upaya memecahkan pembuangan semburan lumpur PT. Lapindo melalui Kali Porong.

Jika dilihat dari peta kontur batimetri perairan bagian timur Kali Porong dan sekitarnya (Pasuruan) menunjukkan bahwa kedalaman perairan berkisar mulai dari 2 hingga 25 meter (Gambar 1).

Kedalaman laut bertambah ke arah bagian timurlaut dan mendangkal ke arah bagian barat dan baratdaya (Gambar 2). Pola garis kontur batimetri cenderung berarah baratlaut-tenggara mengikuti progradasi lengkungan daratan Pasuruan dan sekitarnya (PPGL, 1999). Sebaran sedimen permukaan terdiri dari lumpur, lanau dan lanau pasiran (Setyadi, PPPGL 1999). Kondisi perairan relatif keruh mendekati muara Kali Porong dengan adanya pasokan lumpur dari muara sungai tersebut.

Daerah ini mempunyai daratan pasang surut yang cukup luas yaitu jarak antara garis pantai (pasang maksimum) hingga surut terendah kurang lebih 1.5 kilometer. Semakin ke utara (tidak terpetakan) yaitu ke arah pesisir pantai Sidoarjo hingga mendekati pesisir pantai timur Surabaya saat ini telah banyak berubah dengan pengembangan wilayah melalui reklamasi pantai. Kebutuhan lahan yang semakin meningkat terutama untuk daerah pantai bagian timur kota Surabaya, sebagian kawasan pesisir telah direklamasi ke arah laut dengan cara pengurugan yang digunakan untuk kawasan pemukiman, pariwisata dan kegiatan bisnis. Reklamasi ini dari segi bisnis cukup menguntungkan terutama untuk memperluas kawasan pemukiman, kegiatan usaha dan mengalihkan pusat-pusat keramaian yang selama ini terpusat di tengah-tengah kota Surabaya.

 Begitu pesatnya kegiatan pembangunan di kawasan pantai bagian timur Surabaya dan Sidoarjo sehingga memaksa pola kesetimbangan hidrostatis mengalami perubahan pada titik-titik yang direklamasi, dan secara otomatis faktor alami (gelombang, arus dan pasang surut) cenderung menyesuaikan dengan kondisi yang telah terbentuk disamping perubahan-perubahan lainnya yang berkaitan dengan ekosistem kawasan pantai di daerah itu. Dengan adanya kegiatan itu maka sebagian wilayah pesisir bagian timur Surabaya dan Sidoarjo lambat laun tidak mempunyai zona pecah gelombang (breaker zone) yang biasanya diwakili oleh tumbuhan bakau atau terumbu karang dan gosong pasir (sand bar) yang berfungsi sebagai peredam energi gelombang dari lepas pantai menuju ke darat. Batas antara garis gelombang pecah dan garis pantai (coast line) ini disebut sebagai daerah selancar (surf zone). Daerah selancar inilah yang merupakan bagian utama dari kawasan pesisir yang sering dilakukan reklamasi atau di urug. Faktor Dominan Pendorong Lumpur Porong

 

Faktor dominan pendorong material lumpur adalah arus sejajar pantai yang dipicu oleh energi gelombang musiman. Input energi gelombang di daerah perairan utara Jawa Timur (Pasuruan) terbentuk karena adanyagayadorong (stress) angin musim yang bergerak di atas permukaan laut pada musim barat dengan kecepatan mencapai 35 knot dengan frekuensi 28.57 % (Gambar 3). Akan tetapi pengaruh angin pada musim barat ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pesisir pantai Selat Madura khususnya pantai Sidoarjo danSurabaya(PPPGL 1989). Sedangkan pada musim timur kecepatan angin mencapai 27 knot dengan frekuensi kejadian 32.55 % yang terjadi antara bulan Juni hingga bulan September (Stasion Meteorologi Tanjung Perak Surabaya 1981-1985). Pengaruh angin pada musim timur ini sangat berdampak terhadap dinamika arus di pesisir pantai Pasuruan hingga ke pesisir pantaiSurabaya.

Pada musim timur energi gelombang menerpa tepian pantai Pasuruan dan sekitarnya, pesisir pantai Sidoarjo hingga ke pesisir pantaiSurabaya. Perjalanan gelombang menuju ke pantai tersebut mengalami dissipasi dan transformasi akibat adanya perubahan kedalaman, sehingga pada daerah dengan kedalaman yang dangkal terjadi energi gelombang yang tinggi dan memicu arus yang bergerak sejajar pantai. Tingginya frekuensi angin pada awal musim timur membangkitkan hempasan anergi gelombang di tepian pantai Pasuruan hingga ke pantai Sidoarjo dan Kenjeran Surabaya yang disertai dengan pergerakan arus sejajar pantai (longshore current) ke arah barat. Dengan menggunakan metode (SMB) maka tinggi gelombang maksimum dari arah timur dapat di prediksi sebesar 1.5 meter dengan periode 5 detik. Namun karena bentuk geografis daerah Selat Madura termasuk dalam perairan semi tertutup maka kondisi gelombang maksimum seperti di atas, jarang sekali terjadi. Dari hasil pengamatan secara visual di daerah pesisir pantai Sukolilo Surabaya Jawa Timur, tinggi gelombang yang terjadi di kawasan ini pada musim timur rata-rata kurang lebih sebesar 0.5 meter (PPPGL, 1989).

Frekuensi energi gelombang ini berpengaruh terhadap pantai Pasuruan dan sekitarnya yang disertai pergerakan arus di sepanjang pantai yang cenderung menggerakkan sedimen cenderung ke arah barat (Gambar 1). Proses fluvial dan limpahan sedimen saling mempengaruhi serta proses perombakan oleh aktifitas marin berupa arus sejajar pantai, dapat terlihat dari pantai yang tererosi di beberapa lokasi di sepanjang pantai Pasuruan (PPPGL 1999). Oleh sebab itu jika upaya pengalihan aliran semburan lumpur PT. Lapindo melalui Kali Porong merupakan keputusan akhir maka diperkirakan sebagian aliran sedimen lumpur tersebut bergerak menyusuri pesisir pantai Sidoarjo setelah terjadi percampuran (mixing) di muara sungai (estuari) akibat adanya turbulen oleh aktifitas gelombang dan arus di muara Kali Porong. Diketahui bahwa energi turbulen ini mempunyai daya campur yang tinggi dan dapat menetralisir terhadap kotoran rumah tangga maupun lumpur yang dialirkan ke laut. Kondisi inilah yang dapat menetralisir kepekatan lumpur secara alami dari muara. Pergerakan lumpur ini cenderung diendapkan ke arah utara oleh dinamika arus dari arah tenggara Kali Porong (Pasuruan) pada musim timur. Sedangkan pada musim barat perairan ini relatif tenang (P3GL 1999) sehingga diperkirakan sebagian sedimen lumpur tersebut cenderung diendapkan di daerah estuari dan sekitarnya. Faktor ini yang menjadi kendala bila terjadi pendangkalan di mulut muara Kali Porong yang akan memperlambat laju aliran semburan lumpur ke arah laut, sehingga pada musim hujan tiba dikhawatirkan akan memicu meluapnya air di bagian hilir Kali Porong. Dilain pihak jika aliran lumpur dari PT. Lapindo tersebut secara terus menerus terakumulasi di muara Kali Porong maka lambat laun endapan lumpur ini membentuk delta dan menjadi zona pecahnya gelombang secara alamiah.

Dengan adanya hutan mangrove yang berfungsi sebagai perangkap sedimen di pesisir pantai Sidoarjo maka akumulasi sedimen lumpur ini bukan saja menjadi bahan baku industri batu bata saja akan tetapi endapan sedimen lumpur yang tertahan oleh tumbuhan mangrove di sekitar muara Kali Porong dan pesisir pantai Sidoarjo tersebut akan menjadi barier dari energi gelombang yang mengerosi lahan tambak di sepanjang pesisir pantai.

2.      Nelayan Di Sekitar Perairan Selat Madura

Pada musim timur perairan utara Jawa Timur merupakan gerbang masuknya komponen arus pada lapisan permukaan (0 – 50 m) yang disebut sebagai Arus Monsun Indonesia (Armondo) yang bergerak dari Laut Banda menuju Laut Jawa menerus ke barat (Wyrtki 1961). Percampuran (mixing) antara massa air laut dari timur-laut (Laut Banda) dan dari selatan (Samudera Hindia) yang masuk melalui Selat Lombok dan Selat Bali pada musim timur, mempunyai dampak positif terhadap perubahan temperatur dan salinitas air laut di perairan utara Jawa Timur. Pergerakan massa air laut pada musim timur ini menggiring plankton atau zat hara sebagai makanan bagi kehidupan hayati di perairan bagian utara Jawa Timur. Periode pergerakan arus monsun di perairan Jawa Timur tersebut umumnya mengikuti pergerakan angin musim yang berdampak positif terhadap para nelayan di perairan bagian utara Jawa Timur khususnya di perairan bagian utara Madura dan sekitarnya. Sehingga dampak pembuangan lumpur kehabitatnya (dasar laut) yang mengimbas ke pendapatan nelayan, sepertinya tidak beralasan. Bagaimana dengan kasus di muara Delta Mahakam dengan kondisi lumpur yang lebih luas dari lumpur PT. Lapindo Brantas

2. Mengintip perkembangan Porong dengan IKONOS

 

Apa itu Ikonos?

Ikonos adalah satelit milik Space Imaging (USA) yang diluncurkan bulan September 1999 dan menyediakan data untuk tujuan komersial pada awal 2000. Ikonos adalah satelit dengan resolusi spasial tinggi yang merekam data multispektral 4 kanal pada resolusi 4 m (citra berwarna) dan sebuah kanal pankromatik dengan resolusi 1 m (hitam-putih). Ini berarti Ikonos merupakan satelit komersial pertama yang dapat membuat image beresolusi tinggi. Dengan kedetilan/resolusi yg cukup tinggi ini membuat satelit ini akan menyaingi pembuatan foto udara. Lah iaya ngapain lagi pakai foto udara wong yang ini sudah cukup detil, bahkan kalau memetakankotabekasi bisa dengan skala 1:5000 bahkan 1:2000 untuk desain tata ruang.

Band Width Resolusi Spasial
Panchromatic 0.45 – 0.90µm 1 meter
Band 1 0.45 – 0.53µm (blue) 4 meter
Band 2 0.52 – 0.61µm (green) 4 meter
Band 3 0.64 – 0.72µm (red) 4 meter
Band 4 0.77 – 0.88µm (near infra-red) 4 meter

 

 

 

 

 

 

Gambar 7

Inset 1 (sebelum 6 Oktober 2006, sesudah- 29 Agustus 2006 dan Awal 2007 )

Dalam gambar sebelum kejadian terlihat lalulintas lancar jarak antar kendaraan mobil, bus dan truk cukup jauh. Nampak hijau tanaman padi. Pada gambar setelah di”tumbuhi” lumpur terlihat rona warna abu-abu, pabrik yg terkubur, serta jalan tol yang penuh sesak antri. Juga terlihat asal mengepul dari lokasi semburan.

 

 

 

Bagimana perkembangan selanjutnya ?

Dibawah ini perkembangan tanggal 29 Agustus 2006 dan 16 September 2006.

Hasil jepretan Ikonos January 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dengan melihat pesatnya perkembangan yang hanya selisih kurang dari satubulan saja sudah jelas bahwa lumpur ini menjadi tidak mudah dikendalikan di lokasi semburan. Jalan tol Porong jelas harus dipindahkan, dan barangkali juga jalan kereta api disebelah baratnya. Saat ini debit sudah mencapai diatas 125 000 meterkubik sehari, dan sangat mungkin cenderung meningkat. Tentusaja mengalirkan airnya yang 70% ini saja sudah akan sangat menolong. Tetapi kita tahu pasti bahwa hal ini bukan berarti telah menyelesaikan seluruhnya, masih banyak yang harus dikerjakan, masih banyak yg perlu perhatian. Termasuk dampak lingkungan pembuangan air ini ke Sungai Porong. Peristiwa yg terjadi di Sumur Banjarpanji-1 (BPJ-1) ini sangat memprihatinkan. Siapa saja sangat prihatin bahwa operasi pengeboran dengan niat baik untuk menambah pasokan energi ini mengalami musibah dan berubah menjadi bencana. Saat ini penelitian dilakukan oleh semua ahli di Indonesia, baik ahli kebumian, ahli konstruksi, ahli lingkungan, ahli sosial kemasyarakatan dll. Penelitian ini harus ditujukan sebagai suatu pembelajaran untuk lebih mengetahui apa yg terjadi dan apa yg harus dilakukan. Dan yang lebih penting bahwa penelitian ini bukanlah pengadilan. Bukan mencari salah siapa tetapi lebih banyak mengapa terjadi.

Dahulu ketika awal-awal eksplorasi minyak di bumi ini, kejadian sumur yang muncrat dengan minyak yg menyembur ke atas, merupakan kejadian yg mengasyikan dan tanda-tanda kesuksesan eksplorasi. Pada waktu itu kesadaran keselamatan dan lingkungan belum secanggih saat ini, sehingga ketika terjadi semburan mereka (para explorer) berfoto mengabadikan penemuannya.

Disebelah ini BO yang terjadi ketika memperoleh minyak di lapangan Spindletop tahun 1900. Sumur ini diperkirakan memuncratkan minyak 3 juta galon (lebih dari 12 000 meter kubik) atau sebesar 80 000 (BPH) Barrel oil setiap hari, sebuah angka produksi yg sangat sulit dijumpai saat ini. Saat ini peristiwa muncratnya minyak harus dicegah karena alasan keselamatan serta lingkungan. Mulai saat munculnya kesadaran inilah, maka muncratnya minyak (fluida) dari dalam ketika melakukan pengeboran dianggap sebagai musibah atau kecelakaan operasi, karena tidak hanya minyak yg keluar namun juga air dari dalam bumi termasuk material batuan dapat ikut ‘mecotot’ keluar.

3.      Aliran fluida pengeboran

Dalam kondisi normal, pengeboran dilakukan dengan memasukkan fluida (lumpur pemboran) dari dalam pipa bor sebagai media sirkulasi. Sirkulasi ini diperlukan salah satunya berfungsi untuk menahan tekanan fluida dari dalam tanah. Dalam kondisi normal besarnya tekanan fluida didalam tanah itu sama dengan tekanan tinggi kolom air, masih ingat hukum Pascal, kan ? itu tuh yang rumusnya tekanan sama dengan hasil kali beratjenis x tinggi x gravitasi. Nah kalau tingginya (dalah hal ini kedalaman) diketahui kan kita tahu seberapa besat tekanannya. Tekanan didalam tanah itu bisa saja melebihi tekanan tinggi kolom air sehingga fluida yg dimasukkan harus memiliki beratjenis lebih besar dari BJair.

 

 

Gambar 8

Tanggul darurat

4.      “Lost” dan “Gain”

Istilah “lost and gain” dalam operasi pengeboran ini sangat lazim dan sangat sering terjadi. Saat ini sudah ada alat yg disebut BOP (BlowOut Preventer), alat ini yang akan digunakan ketika terjadi lost-gain, sebagai katup pengaturnya.
Apabila beratjenis lumpur pemboran memiliki berat yg lebih berat dari tekanan formasi maka akan terjadi masuknya lumpur ke formasi yg porous. Lost merupakan kejadian ketika lumpur masuk ke formasi ini.
Apabila BJ lumpur terlalu kecil, maka lumpur tidak kuat menahan aliran fluida dari pori-pori batuan. Lah, ya saat itu terjadi “gain” atau adanya tambahan fluida yg masuk kedalam lubang sumur. Kalau hal ini tidak teratasi atau terlewat karena proses penyemburannya sangat cepat maka aliran fluida dari batuan didalam tanah ini terjadi terus menerus, Seterusnya fluida akan muncrat keluar melalui lubang sumur dan lubang ditengan pipa pemboran. Ini yang disebut sebagai semburan liar atau “blowout”. Yang keluar bisa berupa minyak, gas, ataupun air dan bahkan campuran. Kondisi tekanan masing-masing lapisan di dalam bumisana itu tidak seragam, juga tidak di setiap tempat sama. Tekanan fluida pada Batugamping (karbonat) di formasi Kujung di BD-Ridge yang memanjang dari lapangan BD ke daerah Porong ini, berbeda dengan Bagtugamping kujung di Laut Jawa. Berbeda pula perilaku dan sebaran tekanannya dengan batugamping di Baturaja Sumatra, berbeda pula dengan yang di Irian. Memang secara mudah semakin dalam,maka tekanannya semakin besar. Namun ada kalanya sebuah lapisan mempunyai tekanan yg rendah atau bahkan bila disetarakan dengan tinggi kolom air memiliki tekanan dibawah berat jenis air. Ketika ada dua zona tekanan yg berbeda inilah pen-design sebuah sumur harus jeli. Harus tahu dimana harus memasang selubung (casing) yang tepat. Pipa selubung (casing) ini berfungsi untuk mengisolasi zona bertekanan tidak normal, sehingga penanganannya lebih mudah tidak menimbulkan komplikasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9

Lost dan Gain

5.      Design sumur

Ketika komplikasi tekanan ini sudah diketahui dari sumur-sumur sebelah-menyebelahnya maka design sumur harus lebih baik dari sumur sebelumnya. Untuk pertimbangan bisnis pada saat ini ada dua hal yg harus diperhitungkan paling dahulu yaitu pertama keselamatan dan kedua keselamatan. kesadaran keselamatan kerja saat ini lebih kuat ketimbang hal lain. Hampir semua bisnis memang mendengungkan keselamatan harus lebih didahulukan keselamatan pekerja, dan keselamatan lingkungan Setelah itu baru memperhitungkan biaya. Nah design sumur inilah yg dipakai sebagai pegangan ketika operasi.

6.      Komplikasilost-gain

Ketika terjadi komplikasi lost dan gain ini perlu penanganan dengan teknik khusus. Kedua problem ini ditangani dengan cara yang sangat khusus pula. Namun kalau hal ini tidak teratasi sangat mungkin terjadi “cross-flow”, yaitu fluida yg bertekanan tinggi memasok ke batuan yg memilki tekanan fluida rendah. Seandainya hal ini terjadi terus menerus maka terjadilah underground blow out, atau semburan liar didalam tanah. Yang seaandainya berkelanjutan dapat pula terjadi seperti apa yg terlihat di BJP-1.

8.      Underground Blowout (semburan liar bawah tanah)

Untuk kasus di BPJ ini semburan liar telah terjadi dengan material lumpur yg keluar dari lubang-lubang yg bukan dari lubang bor. Lumpur itu telah keluar melalui celah-celah yg terbentuk akibat tekanan tinggi dari dalam tanah. Banyak hal yg harus diketahui sebelum berusaha menghentikan semburan liar ini antara lain:

  1. Dimana titik-titik lubang jalan keluarnya lumpur ini.
  2. Berapa tekanan bawah permukaan tempat keluarnya lumpur ini.
  3. Melihat material yg sudah keluar perlu diketahui bagaimana bentuk lubang bor saatini.
  4. Setelah diketahui tentunya perlu juga menentukan peralatan apa saja yang diperlukan. Dll

Gambar 10

Underground Blow Out

9.      Dampak dari Lumpur Lapindo

Akibatnya, semburan lumpur ini membawa dampak yang luar biasa bagi masyarakat sekitar maupun bagi aktivitas perekonomian di Jawa Timur: genangan hingga setinggi 6 meter pada pemukiman; total warga yang dievakuasi lebih dari 8.200 jiwa; rumah/tempat tinggal yang rusak sebanyak 1.683 unit; areal pertanian dan perkebunan rusak hingga lebih dari 200 ha; lebih dari 15 pabrik yang tergenang menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 orang; tidak berfungsinya sarana pendidikan; kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi; rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon); terhambatnya ruas jalan tol Malang-Surabaya yang berakibat pula terhadap aktivitas produksi di kawasan Ngoro (Mojokerto) dan Pasuruan yang selama ini merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur.3

Lumpur juga berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Kandungan logam berat (Hg), misalnya, mencapai 2,565 mg/liter Hg, padahal baku mutunya hanya 0,002 mg/liter Hg. Hal ini menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi kulit dan kanker.4 Kandungan fenol bisa menyebabkan sel darah merah pecah (hemolisis), jantung berdebar (cardiac aritmia), dan gangguan ginjal.5. Cairan yang konon terdiri dari 70% air dan 30 zat padat yang membanjiri daerah Sidoarjo dan mengancam pemukiman serta melumpuhkan perekonomian, khususnya industri dan transportasi di daerah sekitarnya. Jika pencemaran lingkungan tidak jadi masalah penyelesaiannya sederhana saja, alirkan lumpur panas yang tokh akhirnya akan mendingin juga ke laut, ke Selat Madura, dari mana lumpur itu berasal.

Contoh kasus dan komentar tentang salah satu pencemaran lingkungkan

Dr. Dwi Andreas Santosa: Logam berat dalam lumpur Lapindo Brantas di atas ambang batas

 

Ani Purwati – 3 Jan 2007 06:33

Semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas tak kunjung berhenti. Bahkan BPTP memperkirakan semburan dapat berhenti setelah kurang lebih 31 tahun. Sungguh mengkhawatirkan. Diperkirakan juga volume lumpur akan mengalami peningkatan dari yang tadinya 50 ribu menjadi 125 ribu dan akhirnya 156 ribu meter kubik per hari.  Sementara langkah yang ditempuh Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur sekarang adalah pembuatan tanggul. Namun menurut Dr. Dwi Andreas Santosa sebagai Executive Director Indonesian Center for Biodiversity and Biotechnology (ICBB), yang turut menganalisa lumpur Lapindo, bila langkah itu dipertahankan dengan wilayah sekarang, dimana lumpur akan bertambah 1,34 meter per bulan, maka dalam satu bulan tinggi tanggul yang kira-kira 3 meter akan menjadi 4,3 meter.

“Jadi bisa dibayangkan tanggul akan jebol. Maka maksimal dalam dua bulan ke depan transportasi utama akan putus dan perumahan di sekitar tanggul akan tenggelam. Sehingga warga sekitarnya harus dievakuasi sekarang,” ungkap Santosa. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa hasil analisa lumpur Lapindo yang terakhir (awal Desember 2006) menunjukkan relatif berbeda dengan data-data sebelumnya. Data terakhir lumpur Lapindo yang diambil pada titik di sekitar 200 meter dari pusat semburan menunjukkan adanya logam berat berbahaya jauh di atas ambang batas yang dipersyaratkan dengan analisa total logam berat. Misalnya Cd 10,45 ppm, Cr 105,44 ppm, As 0,99 ppm, dan Hg 1,96 ppm.

Sedangkan hasil analisa mikrobiologi lumpur yang baru satunya-satunya dilakukan oleh ICBB ini menunjukkan adanya Coliform, Salmonella dan Stapylococcus aureus di atas ambang batas yang dipersyaratkan. Menurut peneliti yang juga dosen di Jurusan Ilmu Tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) ini, semua bakteri itu masuk dalam kelompok bakteri patogen. Sehingga menimbulkan konsekuensi ke depan bahwa dalam kondisi ekstrim, apakah bakteri patogen bisa berubah sifat atau mengalami mutasi? Apakah mutasi itu negatif atau positif bagi bakteri tersebut? Mutasi negatif bagi bakteri bila kemampuannya untuk menginfeksi menjadi mati (menjadi tidak berbahaya bagi lingkungan), dan mutasi positif bila semakin meningkat kemampuannya menginfeksi (menjadi berbahaya bagi lingkungan).

“Ini yang perlu kita perhatikan di masa depan. Walaupun saya juga yakin, data lumpur itu tidak berasal dari pusat semburan di kedalaman tanah, tapi karena lumpur sudah bercampur dengan sekitarnya,” jelasnya. “Yang kami pertanyakan, mengapa bakteri itu bisa hidup di lumpur itu. Dan apa pengaruhnya terhadap lingkungan dan kesehatan ke depan,” lanjutnya. Sedangkan pada analisa awal saat semburan lumpur pertama terjadi, bakteri itu tidak bisa hidup. Bakteri itu kemungkinan berasal dari lingkungan sekitar, karena hujan, atau material tanggul yang bercampur dengan lumpur. “Meski penelitian belum banyak dilakukan, namun kita perlu mewaspadai bahwa ada bakteri patogen di lumpur Lapindo, walau wajar bila bakteri itu ada di mana saja,” ungkapnya lagi.

Pada analisa awal saat semburan lumpur baru terjadi, logam berat juga sangat jarang ditemukan. Data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga menunjukkan bahwa logam berat tidak ada atau kecil jumlahnya, jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. Begitu pun pernyataan timnas, bahwa lumpur tidak mengandung logam berat. Dalam arti nilai logam berat melalui TCLP, semua merujuk bahwa kandungan logam berat di lumpur itu tidak signifikan atau tidak berdampak pada lingkungan atau diasumsikan tidak ada. Santosa mengatakan bahwa hasil analisa KLH atau timnas pada bulan September itu sama dengan data hasil analisa Pusat Penelitian Tanah pada awal terjadinya semburan lumpur. Dimana menyebutkan bahwa tidak ada potensi logam berat.

Namun saat Dr. Dwi Andreas Santosa mempresentasikan hasil analisa lumpur yang mengandung logam berat dan bakteri patogen di atas ambang batas itu di hadapan KLH dan timnas, keduanya tidak membantah data tersebut. Meski demikian pendapat adanya kandungan zat-zat berbahaya itu harus secara hati-hati disampaikan. Sehingga pihak ICBB belum mampu mengatakan kalau lumpur Lapindo berpotensi menyebarkan logam berat. Demikian juga pihaknya menghimbau agar pemerintah dan timnas jangan terlalu dini mengatakan bahwa lumpur Lapindo tidak mengandung logam berat atau jauh di bawah ambang batas yang dipersyaratkan. “Perlu hati-hati dalam pernyataan. Hal itu dikarenakan adanya tren dugaan kenaikan logam berat. Dalam arti komposisinya dalam lumpur Lapindo sekarang ini lebih tinggi dari sebelumnya,” tegas Dosen Fakultas Pertanian IPB itu.

Sementara itu data KLH saat itu menyatakan bahwa pH lumpur adalah 3-4. Sedangkan data dari Tim Peneliti ICBB sekarang menunjukkan, lumpur ber-pH 9,18. Sehingga jelas ada perbedaan karakteristik lumpur sebelumnya dengan lumpur yang sekarang.

Asal tidak jelas

Adanya data hasil analisa lumpur Lapindo yang fluktuatif itu mungkin dipengaruhi dari mana semburan lumpur berasal. Lumpur keluar karena terdesak. Posisinya tidak jelas. Sehingga kemungkinan juga setelah sekian lama, lumpur yang keluar bukan logam berat lagi. Yang jelas menurut Santosa lagi, data yang sekarang mengandung logam berat yang signifikan.

“Sehingga kita perlu mengambil tindakan-tindakan khusus supaya logam ini tidak menimbulkan bahaya ke lingkungan,” simpulnya. Menurut Dr. Dwi Andreas Santosa, lumpur Lapindo telah mengakibatkan hilangnya vegetasi, flora fauna, berpotensi mencemari air permukaan, sumber air dan air tanah karena logam berat, dan bila lumpur meluas akan terjadi perubahan iklim mikro. Bila logam-logam berat itu mencemari perairan umum tersebut maka akan terjadi peningkatan risiko terhadap kesehatan manusia, yaitu pada syaraf, hati, ginjal, kanker dan sebagainya.

Yang perlu diperhatikan juga adalah rusaknya sanitasi dan kualitas udara yang akan mengakibatkan terjadinya beberapa penyakit seperti Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), demam berdarah dan diare.

Selain perusakan lingkungan dan gangguan kesehatan, dampak sosial banjir lumpur tidak bisa dipandang remeh. Setelah lebih dari 100 hari tidak menunjukkan perbaikan kondisi, baik menyangkut kepedulian pemerintah, terganggunya pendidikan dan sumber penghasilan, ketidakpastian penyelesaian, dan tekanan psikis yang bertubi-tubi, krisis sosial mulai mengemuka. Perpecahan warga mulai muncul menyangkut biaya ganti rugi, teori konspirasi penyuapan oleh Lapindo,6 rebutan truk pembawa tanah urugan hingga penolakan menyangkut lokasi pembuangan lumpur setelah skenario penanganan teknis kebocoran 1 (menggunakan snubbing unit) dan 2 (pembuatan relief well) mengalami kegagalan. Akhirnya, yang muncul adalah konflik horisontal. Islam menjawab itu semua, dengan konsep kepemilikan yang jelas: kepemilikan individu (private property); kepemilikan umum (collective property); dan kepemilikan negara (state property). Khusus berkenaan dengan kepemilikan umum, yaitu seluruh kekayaan yang telah ditetapkan kepemilikannya oleh Allah bagi kaum Muslim, dan menjadikan kekayaan tersebut sebagai milik bersama kaum Muslim. Individu-individu dibolehkan mengambil manfaat dari kekayaan tersebut, namun terlarang memilikinya secara pribadi. Zallum25) mengelompokkan dalam tiga jenis: (1) sarana umum yang diperlukan seluruh warga negara untuk keperluan sehari-hari seperti air, saluran irigasi, hutan, sumber energi, pembangkit listrik dll; (2) kekayaan yang asalnya terlarang bagi individu untuk memilikinya, seperti jalan umum, laut, sungai, danau, teluk, selat, kanal, lapangan, masjid dll; (3) barang tambang (sumberdaya alam) yang jumlahnya melimpah, baik berbentuk padat seperti emas atau besi, cair seperti minyak bumi atau gas seperti gas alam. Rasulullah saw. Bersabda:

«الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلاَثٍ فِي الْكَلأِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ»

Kaum Muslim itu berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput/hutan dan api/energi. (HR Abu Dawud dan Ibn Majah).

Walaupun akses terhadapnya terbuka bagi kaum Muslim, regulasi diatur oleh negara. Kekayaan ini merupakan salah satu sumber pendapatan Baitul Mal kaum Muslim. Khalifah selaku pemimpin negara bisa berijtihad dalam rangka mendistribusikan harta tersebut kepada kaum Muslim demi kemaslahatan Islam dan kaum Muslim. Dalam konsep Islam, sesuai dengan tujuan negara bonum publicum, negara tidak akan menjadi pengkhianat rakyat, namun justru menjadi pelindung bagi rakyatnya. Yang kemudian dapat ditarik garis bawah bahwa setidaknya ada 3 aspek yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur panas tersebut. Pertama, adalah aspek teknis. Pada awal tragedi, Lapindo bersembunyi di balik gempa tektonik Yogyakarta yang terjadi pada hari yang sama. Hal ini didukung pendapat yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur (liquefaction) adalah gempa (sudden cyclic shock) Yogya yang mengakibatkan kerusakan sedimen.

Kedua, aspek ekonomis. Lapindo Brantas Inc. adalah salah satu perusahaan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang ditunjuk BP-MIGAS untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi. Saat ini Lapindo memiliki 50% participating interest di wilayah Blok Brantas, Jawa Timur.15 Dalam kasus semburan lumpur panas ini, Lapindo diduga “sengaja menghemat” biaya operasional dengan tidak memasang casing.

Ketiga, aspek politis. Sebagai legalitas usaha (eksplorasi atau eksploitasi), Lapindo telah mengantongi izin usaha kontrak bagi hasil/production sharing contract (PSC) dari Pemerintah sebagai otoritas penguasa kedaulatan atas sumberdaya alam. Sehingga dari sini jelas dimensi-dimensi yang sangat menarik dari tragedi lumpur panas lapindo yang merupakan”Hot Mud Flow In East Java, Indonesia”salah satu statement yang muncul ditengah hiruk pikuk masyarakat  ini.

E k o l o g i

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

 

Di dalam kesatuan ekosistem, kedudukan manusia adalah sebagai bagian dari unsusr-unsur lain yang tak mungkin terpisahkan manusia harus menjaga keserasian hubungan timbal bailk atau interaksi antara manusia dengan lingkungannya, sehingga keseimbangan ekosistem tidak terganggu. Pengaruh manusia terhadap lingkungannya dapat mengakibatkan tiga kemungkinan, kepada kualitas lingkungannya, yaitu dterriorasi, tetap lestari, dan memperbaiki. Interaksi antara manusia dengan alam pasti akan terus terjadi sampai berakhirnya kehidupan ini. Sedangkan kecenderungan yang ada adalah interaksi tersebut mayoritas memberikan dampak negatif terhadap alam atau lingkungan, yang akhirnya dampak tersebut akan kembali berbalik ke manusia itu sendiri. Maka untuk menanggulangi atau mengatasi hal itu hendaknya manusia mampu mengolah alam serta mampu menjaga kelestariannya, salah satu caranya adalah Industri berwawasan lingkungan yang mana penjagaan alam di sekitar industri tersebut merupakan satu hal yang mutlak diperlukan untuk tetap menjaga kelangsungan industri tersebut beriringan dengan keadaan alam yang juga tetap asli atau alami.

Sumber : http://www. wikipedia.com.

Sumber : http://www.kompas.com

Sumber : http//www.beritabumi.com

Sumber : http//www.tempo.co.id

Sumber : http//www. Blog pada WordPress.com.

Sumber : http//www.eastjava.com./info/porong/

Resosoedarmo, Soedjiran, dkk. 1985. Pengantar EKOLOGI.Jakarta : IKIPJakarta Peers.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: