MANA JANJIMU


Lihatlah diri kita sudah jauh berbeda dengan saat kecil dahulu kala, 18,19,20 atau berapapun umur kita, sungguh itu merupakan kumpulan waktu yang akan terus bergulir baik kita sadar atau tidak.

Maka satu pertanyaan yang kembali terbersit di hati kita. Apa yang kita dapati sampai saat ini? Apa yang kau pernah lakukan selama itu? Ataupun apa yang sudah kau persiapkan untuk hari depanmu?  Demi masa.   Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Al Ashr (103) : 1-3. Jangan bilang Allah tak pernah memberi tahu kita tentang hal ini.

Hidup adalah sebuah kebanggaan dan tanggung jawab, sebuah kebangaan karena kita telah terpilih dari berjuta-juta “saudara” kita yang lain dan ketika sudah bertemu dengan “pasangannya” yang juga telah terpilih dari “teman seibunya” yang lain. Yang kemudian berkembang menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, menjadi tulang yang terbungkus daging yang akhirnya membentuk diri-diri kita. (Lihat Al Mu’minun (23) : 14). Hidup juga tanggung jawab sebagaimana apa yang Allah amanahkan kepada kita sebagai seorang kholifah-Nya. Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi……(Al Fathir (35) : 39. Dan semua itu tak mudah, entah bagaimanapun keadaan kita sekarang, sadar atau tidak dengan hal ini?

Kita diawali sebagai seorang petarung, dan bukan petarung biasa Karena kita dilandasi dengan tauhid yang akan menjadi senjata  kita nantinya, sebagimna firman Allah SWT, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”, Al Araf (7) : 172. Dan inilah sesungguhnya yang menjadikan kita seorang petarung yang unggul dan mulia. Kesaksian kepada Allah bahwa hanya Ia-lah yang patut disembah dan Ia-juga Yang Maha Pengatur, dituntut oleh Allah ketika kita sudah baligh, ya!! sudah baligh seperti ini… saat ini… kita dituntut mebuktikan janji kita kepada Allah.

Maka apa yang ada pada kita sekarang, sungguh tak lebih dari apapun bahkan banyak saudara kita yang lain, tak paham apa eksistensi penciptaan dirinya di dunia ini. Baik kita sadar atau tidak Allah akan tetap bertanya kepada kita, MANA JANJIMU….? Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Al Qiyamah (75) : 36.

Bangun berdiri dan berjalanlah tataplah jalan di depanmu, dengan penuh keikhlasan untuk memenuhi janjimu kepda-Nya, penuh tawadhu’, optimis, tanamkan azzammu menancap kuat di hatimu sebagaimana tertancap kuatnya semangat kaum muslimin menghadapi musuh-musuhnya di Badar, Uhud Khandaq, Thoif, Tabuk dan banyak medan lainnya. Maka akhirnya sadar atau tidak kita hanyalah abdinya yang harus tunduk patuh kepada perintah dan aturan-Nya semata!!

Sudahkah itu berada dalam diri kita? Atau hanya sekadar tahu dan tak mahu tahu apa yang kita ketahui??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: