Laporan KKL I Bentanglahan Zona Pulau Jawa Zona Utara, Tengah, dan Selatan


Secara administratif, propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten, 6 Kotamadya, dan 4 Kota administratif. Sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta terdiri atas 4 Kabupaten, dan 1 Kotamadya. Secara Astronomis terletak pada 109o00’-112o00 BT dan 6o00-8o00’ LS.

Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bagian barat berbatasan Jawa Barat, sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Jawa Timur dan bagian selatan berbatasan dengan Samudera Hindia.

Berdasarkan peta geologi lembar Yogyakarta, Jawa  yang dibuat oleh Raharjo dkk (1972) dikenal adanya empat macam formasi batuan Alluvium, endapan Vulkanik Merapi muda, formasi Nglanggran dan formasi Wonosari. Secara garis besar Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi DIY mempunyai 2 jenis bentuklahan konstruksional dan destruksional dan terdiri dari beberapa jenis tanah yaitu Grumusol, Aluvial, Litosol, Hidromove, Latosol, dan Regosol.

Kuliah Kerja Lapangan 1 tahun 2007 ini dilaksanakan pada hari sabtu sampai senin tanggal 19 sampai 21 Mei 2007 dan mengambil beberapa tempat di kota-kota sekitar Jawa  Tengah dan DIY yang memiliki fenomena-fenomena alam yang kompleks dan menarik dilihat dari segi geografis. Tempat-tempat yang menjadi obyek KKL I ini adalah di hari yang pertama stop site pertama yaitu di daerah Sangiran, dengan kubah/ dome Sangirannya dimana dome ini terbentuk atas beberapa formasi yaitu Notopuro, Kabuh, Pucangan, dan Kalibeng. Kemudian stop site  berikutnya yang kedua adalah wilayah Gundih di Kabupaten Grobogan dimana kenampakan formasi Kalibeng paling mudah dijumpai dan memiliki potensi bencana berupa soil creep (rayapan tanah) yang dicirikan oleh tiang listrik/ tumbuhan akan kelihatan condong. Selanjutnya stop site yang ketiga di daerah Jono Kabupaten Grobogan yang apabila dilihat dari kondisi geologinya adalah merupakan suatu kenampakan conatte water (air jebakan) yang dimanfaatkan sebagai tambak garam darat didaerah Jono yaitu jenis garam yang berupa “bleng/ cetitet”. Kemudian stop site yang ke empat di Bledug Kuwu yang terapat di kabupaten Grobogan yang memperlihatkan kenampakan geologi yang berupa diaper. Kenampakan yang ada di Bledug Kuwu merupakan sejenis atau serupa yang terjadi dengan di Lapindo karena formasi batuan yang ada dikedua daerah tersebut adalah sama. Yang membedakan adalah hanya tekanan yang ada di dalamnya. Setelah melihat kenampakan yang ada di Bledug Kuwu, kemudian di stop site yang terakhir adalah di antiklinarium Rembang (Sendangharjo). Di Sendangharjo ini memperlihatkan kenampakan yang berupa kumpulan antiklin-antiklin sehingga membentuk suatu antiklinarium. Antiklinarium ini berawal dari Rembang sambung menyambung dan berakhir di Surabaya.

Di hari yang kedua, pada stop site yang pertama berada di Pantai kartini. Pantai ini barada di pesisir utara pulau Jawa yang merupakan kenampakan yang berupa lipatan yang dibatasi oleh dataran rendah yang langsung berhubungan dengan pantai. Pada stop site yang kedua berada di daerah tambak garam dan tambak bandeng. Pada stop site yang ketiga yaitu di Bendung Gerak Kalijajar.  Bendungan ini sangat berperan penting bagi kota-kota yang ada di sekitarnya, karena dapat mengatur debit alirannya sehingga dapat mencegah banjir bagi kota disekitarnya. Pada stop site yang terakhir di hari yang kedua ini berada daerah Rawa Pening yang dikelilingi oleh pegunungan di Zone Tengah menyebabkan daerah ini bersifat vulkanik yang apabila dilihat dari proses geomorfologinya batuan yang ada dikawasan ini adalah batuan Alluvium yang terjadi karena proses fluvial. Daerah ini juga rentan terhadap terjadinya longsor dan gerakan massa tanah yang lain seperti Rock Fall.

Pada hari yang terakhir, di stop site yang pertama berada di Ketep Pass. Di sana memperlihatkan suatu kenampakan bentuklahan asal proses vulkanik.Gunung Merapi yang posisinya terletak diantara 2 propinsi dengan ketinggian 2968 m DPAL yang berada di zona tengah Jawa  ini mempunyai 4 level kegiatan yaitu aktif normal, waspada, siaga, dan awas. Dimana empat level kegiatan tersebut dapat diamati dari pos-pos pengamatan salah satunya adalah Ketep Pass. Pos pengamatan tersebut dibawah naungan BPPTK (Badan Penelitian Pengembangan Teknologi Kegunungapian) Yogyakarta. Pada stop site yang kedua berada di Putat yaitu tempuran kali opak dan kali Oyo. Di stop site ini memperlihatkan kenampakan kedua sungai yang mempunyai karakteristik yang sangat berbeda. Pada Stop site yang ketiga, di daerah Parangkusumo yang memperlihatkan kenampakan yang berupa batuan yang berasal dari aliran lava dari gunungapi bawah laut purba pada zaman itu. Dan di stop site yang terakhir di gumuk pasir (sand dunes). Ini merupakan suatu kenampakan bentuklahan asal proses Aeolian.

Uraian diatas merupakan sebagian dari stop site-stop site yang dikunjungi dalam kegiatan KKL I. Adapun yang melatar belakangi daerah-daerah tersebut sebagai daerah KKL I, karena daerah tersebut mempunyai keanekaragaman bentanglahan dan bentang budaya yang sangat menarik untuk dikaji atau daerah tersebut dapat mewakili tiga zona yang ada di pulau Jawa, yaitu zona utara, tengah, dan selatan yang ketiganya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: