Geomorfologi dan Hidrologi Karst

Leave a comment »

Tektonik Pulau Jawa

Leave a comment »

Letusan Gunung Tambora

Leave a comment »

Letusan Gunung Krakatau Purba


krakatau

Selat sempit itu mirip benar dengan segitiga raksasa kala dilihat dari ketinggian udara. Saat itu, di dekat puncak segitiga ini berdiri kokoh sebuah gunung berapi. Ia tegak menjulang perkasa seakan memaku buana. Tubuhnya (mungkin) demikian besarnya sehingga kakinya membentang begitu lebar, nyaris menutup seluruh perairan laut yang ada di sana. Tak heran jika gunung berapi besar ini ibarat jembatan penyatu dua pulau besar itu, yang semula dipisahkan oleh selat sempit tersebut. Orang bisa menyeberang dari satu pulau ke pulau yang lain dengan berjalan menyusuri kaki gunung. Selat itu pun seakan berubah menjadi sebuah teluk nan besar.

Namun semuanya berubah total di suatu ketika 15 abad silam. Berawal dari getaran demi getaran yang terus mengguncang,disusul asap mengepul dari puncak sang gunung dan lama-kelamaan kian memekat, maka tibalah saat gunung berapi itu mempertontonkan kedahsyatannya. Letusan sangat dahsyat pun terjadilah. Pada puncak letusannya, sekitar 400.000 meter kubik magma disemburkan gunung berapi dalam setiap detiknya. Maka setiap detiknya gunung itu memuntahkan magma dalam jumlah yang cukup untuk mengisi 17.000 mobil tanki bahan bakar berkapasitas 24.000 liter. Uap panas, gas vulkanik nan mencekik, bebatuan membara dan debu vulkanik pekat disemburkan hingga ketinggian berpuluh kilometer ke atmosfer. Sebagian diantaranya berjatuhan kembali ke Bumi, menggelapkan langit kedua pulau besar yang ada didekatnya. Sebagian lagi melayang di dalam lapisan stratosfer dan memicu efek dramatik yang terasa dampaknya di segenap penjuru permukaan Bumi dalam jangka panjang. Bersamaan dengan gelap pekatnya langit kedua pulau besar didekatnya, tubuh gunung pun mulai ambruk ke dasar laut. Gelora raksasa pun tercipta, dengan tinggi luar biasa saat tiba di pesisir sehingga mampu menerjang berkilo-kilometer ke daratan. Gelora raksasa segera menyapu bersih apa dan siapa saja yang dilintasinya.

Gambar 1. Panorama Kepulauan Krakatau yang ikonik. Gundukan di latar depan adalah Gunung Anak Krakatau, dengan leleran lava produk letusan tahun 1975 yang telah membeku di bagian kanan bawah. Jauh di latar belakang terlihat pulau Rakata, yang adalah salah satu titik tertinggi dinding kaldera Letusan Krakatau 1883 yang mencuat di atas permukaan Laut. Kepulauan Krakatau mendunia lewat letusan dahsyatnya di tahun 1883. Namun jejak-jejak lapisan debu tebal yang tersingkap di berbagai pulau di kepulauan ini menunjukkan bahwa gunung berapi ini telah meletus dahsyat lebih dari sekali sepanjang sejarahnya. Sumber: Direktorat Vulkanologi (kini PVMBG), 1979.

Begitu klimaks drama menggidikkan ini usai, pemandangan baru pun tersaji sudah. Gunung berapi besar itu lenyap hampir sepenuhnya. Apa yang semula menjadi tempat berdirinya gundukan tinggi besar ibarat paku buana itu pun kini berganti total menjadi pemandangan samudera. Dua pulau besar itu pun kembali terpisahkan. Tak ada lagi jembatan alamiah yang menjadi penghubung keduanya seperti sedia kala. Di kemudian hari salah satu pulau besar itu dikenal sebagai pulau Jawa, sementara pulau lainnya adalah pulau Sumatra. Dan kelak di kemudian hari, di tengah-tengah perairan dimana gunung berapi besar itu dahulu pernah ada, tumbuh sebentuk gunung berapi lainnya meski dimensinya jauh lebih kecil. Kelak kita mengenalnya sebagai Gunung Krakatau.

Petaka

Siapa yang tak kenal dengan Gunung Krakatau? Walaupun ia hanyalah sebentuk gundukan kecil mungil berasap di tengah-tengah keluasan perairan Selat Sunda, namun namanya sungguh meraksasa. Apalagi jika bukan karena Letusan Krakatau 1883 yang demikian menggetarkan. Letusan yang baru kita peringati kejadiannya untuk ke-131 kalinya di Agustus 2014 ini. Namun amukan Gunung Krakatau di tahun 1883 itu sejatinya bukanlah letusan terbesar yang pernah dialami si gunung lasak ini sepanjang sejarahnya.

Kala ilmu kegunungapian terus berkembang hingga menjadi seperti sekarang, para ahli kegunungapian pun berdatangan ke sudut-sudut kepulauan Krakatau ini. Mereka mengabadikan, menganalisis dan mendokumentasikan setiap singkapan bebatuan yang ada. Kini kita tahu bahwa lapisan-lapisan debu vulkanik yang bertumpukan di kepulauan ini menunjukkan betapa dalam setidaknya 8.000 tahun terakhir, gunung ini telah meletus dahsyat sebanyak sedikitnya tiga kali. Kedahsyatan tersebut tecermin lewat eksistensi tiga lapisan debu vulkanik yang cukup tebal dibanding lapisan-lapisan sejenis lainnya. Pada dasarnya semakin tebal lapisan debu vulkaniknya maka semakin besar pula skala letusannya.

Lapisan debu tebal teratas merupakan lapisan yang termuda yang dihasilkan Letusan Krakatau 1883. Namun letusan itu, yang dahsyatnya tak kepalang untuk ukuran manusia modern itu, sejatinya merupakan letusan terkecil dari ketiga letusan dahsyat dalam sejarah Krakatau. Peringkat kedua ditempati oleh Letusan Krakatau 1215, yang terjadi pada tahun 1215 berdasarkan pertanggalan radioaktif pada batang/ranting kayu yang mengarang (menjadi arang) di dalam lapisan debunya. Skala letusannya mungkin setara dengan letusan 1883, yakni sama-sama menempati 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Meski berdasarkan ketebalan lapisan debunya, Letusan Krakatau 1215 nampaknya menyemburkan material letusan dalam jumlah sedikit lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883. Dan pemuncaknya adalah letusan sangat dahsyat yang menghasilkan lapisan debu demikian tebal, hingga setebal 25 meter. Belum ada sisa kayu yang telah mengarang yang berhasil dijumpai pada lapisan debu tebal ini, sehingga letusan pembentuknya terjadi belum bisa ditentukan berdasarkan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Berdasarkan ketebalan debunya, letusan ini diperkirakan memiliki skala 7 VEI. Sejauh ini hanya Letusan Tambora 1815 dan Letusan Samalas (Rinjani) 1257 yang menyamai skala letusannya.

Gambar 2. Kiri: singkapan lapisan-lapisan debu tebal produk letusan dahsyat pada terbing terjal di salah satu sudut Kepulauan Krakatau. Nampak lapisan debu setebal 25 meter yang diduga merupakan produk letusan sangat dahsyat di abad ke-6. Kanan: vulkanolog Haraldur Sigurdsson nampak sedang menuruni tebing terjal itu guna menyelidiki lebih lanjut. Sumber: Wohletz, 2000.

Tengara akan letusan sangat dahsyat yang membentuk lapisan debu setebal hingga 25 meter itu nampaknya datang dari sumber tertulis nan jauh di luar kepulauan Nusantara. Tepatnya di Cina. Sebuah berita Cina, yakni kronik Nan Shi, mencatat suara gemuruh mirip guntur di kejauhan yang terdengar dari barat daya pada suatu waktu di tahun 535. Peristiwa ini merupakan awal dari malapetaka besar yang menghantam imperium Cina sepanjang tahun 536-537. Kronik yang sama menuturkan betapa pada titimangsa Desember 536, debu kuning pekat mengguyur daratan di seluruh wilayah kekaisaran laksana hujan salju. Lantas sepanjang bulan Juli dan Agustus tahun berikutnya, udara membeku dan salju turun dengan derasnya di tengah-tengah masa yang seharusnya merupakan musim panas. Kronik Bei Shi pun mencatat hal senada. Akibatnya lahan pertanian pun hancur membuat produksi pangan merosot drastis. Kelaparan pun segera merebak dimana-mana dan merenggut korban-korbannya dalam jumlah sangat besar. Demikian parah situasinya sehingga kaisar sampai memberlakukan dekrit pengampunan pajak.

Namun petaka besar di tahun 535-536 itu ternyata tak hanya melanda Cina. Di Semenanjung Korea bagian utara, kerajaan Koguryo pun berjuang hidup mati mempertahankan diri setelah mendadak dihantam banjir besar. Banjir besar yang salah musim itu segera disusul dengan merebaknya wabah penyakit. Nada pesimisme yang sama juga dijumpai di Kepulauan Jepang lewat kronik Nihon Shoki. Kronik itu menuturkan betapa terjadi perubahan cuaca yang tak biasa yang disusul hancurnya lahan pertanian.

Tak hanya di Cina, Korea dan Jepang, malapetaka sejenis ternyata juga tercatat di kawasan pesisir Laut Tengah (Mediterania). Seorang uskup John dari Efesus (kini bagian dari Turki) menuliskan dalam kroniknya berapa pemandangan aneh terjadi di langit, saat Matahari seakan–akan kehilangan kecerahannya hingga hanya sedikit lebih terang saja dibanding Bulan. Situasi ini bertahan hingga 18 bulan lamanya. Bersamaan dengannya terjadi kelaparan besar menyusul hancurnya lahan pertanian akibat cuaca ekstrim yang salam musim. Tak hanya kelaparan yang melanda, wabah penyakit sampar (pes) pun bergentayangan mencari korban-korbannya. Hal senada juga diutarakan senator Cassiodorus di imperium Romawi pada saat yang hampir sama.

Gambar 3. Lokasi dimana terdapat catatan sejarah setempat terkait peristiwa dramatis di tahun 535, beserta data-data kronologis yang berhasil digali dari analisis lingkaran tahun kayu-kayu tua, sedimen dasar danau dan lembaran-lembaran es. Semua menunjukkan adanya gangguan iklim dramatis selama beberapa tahun, yang secara alamiah lebih mungkin disebabkan oleh letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sumber: Sudibyo, 2014 dengan data dari Wohletz, 2000.

Bagi Eropa dan Asia, peristiwa aneh di tahun 535-536 ini adalah momen yang mengantarkan peradaban mereka memasuki abad kegelapan. Kekuasaan imperium Romawi mulai melemah sehingga sebagian wilayahnya mulai diambil-alih suku-suku Jermania nan perkasa yang bermigrasi dari Mongolia akibat bencana kelaparan. Pada saat yang sama peradaban Kristen Arian (rival terbesar Katolik Roma) pun berakhir secara misterius. Di Jazirah Arabia bagian selatan, peristiwa aneh itu memperparah situasi dalam peradaban Himyarit yang telah melemah seiring bobolnya bendungan Ma’rib. Kelaparan berkepanjangan dan wabah sampar kian melemahkannya hingga pada puncaknya mengambrukkan peradaban itu. Sampar semula hanya terkonsentrasi di Afrika timur. Namun kekeringan dahsyat menyebabkan populasi tikus merajalela tanpa bisa dikontrol lagi oleh para predatornya yang keburu mati kelaparan. Tikus-tikus pembawa kutu-kutu inang sampar selanjutnya memasuki pelabuhan–pelabuhan di pesisir Afrika timur dan terbawa armada kapal dagang yang berlayar melintasi Laut Merah dan terusan Trajanus ke Laut Tengah. Dengan cara inilah wabah sampar bergentayangan hingga mencapai Arabia selatan, Mediterania dan bahkan kepulauan Inggris serta lembah Mesopotamia.

Data

Baiklah, semua itu adalah catatan sejarah. Dan sejarah kerap bersifat multitafsir kala dipandang kembali dari masa yang lebih kemudian, dari zaman yang telah berubah. Namun bagaimana dengan catatan-catatan yang lebih independen, yakni jejak-jejak yang tak terkotori campur tangan manusia?

Petunjuk menarik datang dari lingkaran tahunan di dalam batang-batang kayu yang sangat tua. Lingkaran tahunan adalah lapisan kambium yang telah menjadi lapisan kayu pada tumbuhan berkayu keras. Sifat lapisan kambium ini khas, dimana tebal tipisnya dipengaruhi oleh normal tidaknya kehidupan tumbuhan bersangkutan terkait banyak sedikitnya jumlah air dan pencahayaan Matahari yang bisa diserap. Pada dasarnya berkurangnya jumlah air dan penyinaran Matahari akan menghasilkan lapisan kayu lebih tipis, demikian sebaliknya.

Analisis yang telah dilakukan terhadap lingkaran tahunan kayu-kayu tua di daratan Irlandia menunjukkan pada abad ke-6 dijumpai lapisan-lapisan kayu yang lebih tipis, terjadi semenjak tahun 535 dan berlangsung hingga 10 tahun kemudian. Analisis perbandingan dengan kayu-kayu tua di tempat lainnya menunjukkan fenomena ini bukanlah khas Irlandia semata. Sebab dijumpai pula di bagian Eropa lainnya seperti Swedia barat laut, Finlandia utara, Semenanjung Yamal (Rusia), Yunani dan Polandia. Juga didapati di daratan Amerika utara seperti di Sierra Nevada dan Carolina utara, maupun di Amerika selatan seperti di Chile selatan dan Argentina selatan. Bahkan di tempat sejauh dan seterpencil Tasmania (Australia) juga dijumpai hal serupa. Maka dapat dikatakan bahwa pasca tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian iklim Bumi secara umum mengalami gangguan lumayan berat, sehingga jumlah air (dalam wujud curah hujan) merosot drastis bersamaan dengan berkurangnya penyinaran Matahari.

Gambar 4. Atas: dinamika ketebalan lingkaran kayu pada lingkaran tahunan kayu-kayu tua yang berhasil diekstrak dari Siberia (Rusia), Finlandia dan Swedia dalam rentang kronologi sejak tahun 1 hingga 1997. Garis merah menunjukkan lapisan kayu dari tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian, nampak memiliki ketebalan paling kecil dibanding yang lain. Bawah:  dinamika kadar asam sulfat yang berhasil diekstrak dari lembaran es di proyek pengeboran GRIP (Greenland). Kadara asam sulfat tertinggi adalah pada tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian (ditunjukkan dengan pensil). Sumber: Wohletz, 2000.

Petunjuk lain gangguan iklim Bumi pada saat itu datang dari dasar sejumlah danau di berbagai penjuru. Sebuah danau mendapatkan airnya dari kawasan tangkapan air yang ada disekitarnya. Kala hujan mengguyur, air jatuh ke kawasan ini sembari menyeret partikel-partikel tumbuhan (umumnya bulir serbuk sari) lantas mengalir ke danau melalui alur parit-parit kecil dengan membawa serta partikel-partikel tanah. Seluruh partikel itu lalu diendapkan di dasar danau dan pengendapan berlangsungs ecara berkesinambungan. Pada saat gangguan iklim terjadi, berkurangnya curah hujan akan membuat tumbuh-tumbuhan hidup di bawah normal. Sehingga jumlah serbuk sari yang diproduksinya akan menyusut, pun demikian serbuk sari yang mengendap di dasar danau. Pengeboran terhadap dasar danau-danau di benua Amerika seperti danau Titicaca dan Marcachoca (keduanya di Amerika selatan) serta danau Chichancanab dan Punta Laguna (keduanya di Amerika tengah) memperlihatkan gejala itu. Dibantu dengan teknik pertanggalan radioaktif, maka terkuak bahwa mulai tahun 535 hingga beberapa tahun kemudian jumlah serbuk sari yang mengendap di dasar danau jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya maupun sesudahnya. Hal ini menunjukkan dengan jelas terjadinya gangguan iklim Bumi, terutama lewat menurunnya jumlah curah hujan.

Baiklah, dari data lingkaran tahunan di kayu-kayu tua dan endapan dasar danau tersebut, kita tahu ada sesuatu yang terjadi di tahun 535 yang dampaknya menghantam sistem iklim Bumi dengan begitu telak. Namun apa penyebabnya? Di sinilah kita berhutang kepada para ahli glasiologi, yang bertekun diri menantang bahaya pergi ke tempat-tempat terpencil yang sangat dingin baik, di kawasan kutub maupun di pucuk-pucuk pegunungan bersalju. Bukan untuk berwisata maupun memompa adrenalin sekuat tenaga, namun untuk mengebor lembaran-lembaran es di sana dan membawanya pulang ke laboratorium berpendingin khusus. Lapisan-lapisan es pada dasarnya terbentuk dari guyuran hujan salju yang terus terakumulasi selama bertahun-tahun. Saat jatuh ke Bumi, butir-butir salju membawa serta partikulat dan gas apapun yang ada di udara pada saat itu. Maka es beku dalam lembaran-lembaran es dimanapun berada sejatinya memuat informasi tentang apa yang dialami atmosfer Bumi kita hingga kurun waktu ribuan atau bahkan puluhan ribu tahun silam.

Saat lembaran–lembaran es di Greenland (lewat proyek GRIPdan Dye 3) serta Antartika (lewat proyek Byrd) dibor, analisisnya menghasilkan temuan menarik yang terkait langsung peristiwa tahun 535. Dengan dibantu teknik pertanggalan karbon radioaktif, diketahui bahwa pada lapisan es yang berasal dari tahun 535 terkandung asam sulfat dalam jumlah besar, yang mencapai 5 kali lipat di atas normal. Asam sulfat umum dijumpai dalam atmosfer Bumi dalam wujud aerosol sebagai produk aktivitas vulkanisme. Namun kadar asam sulfat yang sangat besar menandakan terjadi sesuatu yang di luar kebiasaan, baik berupa letusan gunung berapi yang dahsyat maupun tumbukan benda langit (komet atau asteroid) yang cukup besar. Kadar asam sulfat dari tahun 535 itu adalah yang tertinggi sepanjang 2.000 tahun terakhir. Ia masih lebih tinggi dibanding kadar asam sulfat dari tahun 1815 (produk Letusan Tambora 1815), apalagi dari tahun 1883 (produk Letusan Krakatau 1883). Belakangan pengeboran lembaran es di gletser Quelccaya di Pegunungan Andes (Amerika selatan) juga menjumpai hal senada. Bahwa lonjakan asam sulfat itu dijumpai baik di lingkaran kutub utara (yakni di Greenland) maupun selatan (yakni Antartika) menandakan bahwa peristiwa yang menjadi penyebabnya haruslah berlokasi di kawasan khatulistiwa’ dan sekitarnya.

Saat semua data tersebut dibandingkan dengan catatan sejarah, terkuaklah sebuah fakta: terjadi sebuah peristiwa di luar normal (entah dalam wujud letusan gunung berapi yang sangat dahsyat ataupun tumbukan benda langit) mengambil tempat di kepulauan Nusantara, khususnya yang berada di arah barat daya dari Nanking/Nanjing (ibukota imperium Cina di abad ke-6 dan tempat kronik Nan shi ditulis). Peristiwa itu menghembuskan partikulat debu dalam jumlah sangat banyak ke atmosfer hingga demikian tinggi untuk kemudian terdistribusi ke segenap penjuru lapisan stratosfer. Maka tercipta lapisan debu bercampur aerosol asam sulfat, entah sebagai tabir surya vulkanik maupun tabir surya tumbukan, yang berkemampuan sangat efektif dalam mereduksi pancaran sinar Matahari yang seharusnya dihantarkan ke permukaan Bumi tanpa gangguan.

Maka Matahari pun nampak seakan-akan lebih redup. Penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi pun terjadilah. Es meluas dimana-mana. Produksi uap air secara umum berkurang sehingga curah hujan pun turut berkurang. Iklim jadi kacau. Akibatnya lahan pertanian hancur. Produksi tanaman pangan merosot drastis, membuat dunia kelaparan. Suhu udara yang lebih dingin dan orang-orang yang daya tahan tubuhnya menurun (akibat kelaparan) memudahkan bakteri patogen menyebar melampaui area tradisionalnya. Maka abad kegelapan pun terjadilah. Tak sulit membayangkan bahwa jutaan orang, angka yang sangat signifikan bagi populasi penduduk Bumi masa itu, meregang nyawa menjadi korbannya. Tak heran jika ada yang berpendapat, surga seakan sedang menjauh dari dunia. Murka-Nya seakan sedang menjelma.

Simulasi

Bagian kepulauan Nusantara yang berada di arah barat daya dari kota Nanking mencakup pulau Sumatra dan Jawa serta pulau-pulau kecil disekitarnya sekarang. Sampai saat ini di kawasan ini belum dijumpai eksistensi kawah produk tumbukan benda langit, khususnya yang berasal dari abad ke-6. Sehingga penyebab peristiwa di tahun 535 itu lebih mungkin adalah letusan gunung berapi sanga dahsyat. Pulau Sumatra dan Jawa memang dipadati oleh gunung-gemunung berapi aktif. Namun saat kita mencari gunung berapi mana yang meletus demikian dahsyatnya di abad ke-6, telunjuk akan terarah ke satu titik: Gunung Krakatau.

Letusan Krakatau di abad ke-6 merupakan letusan yang paling samar datanya. Ada lapisan debu sangat tebal (setebal 25 meter) yang tertinggal di kepulauan Krakatau, namun belum bisa diketahui umurnya mengingat tiadanya jejak kayu yang mengarang yang bisa digunakan untuk penentuan umur dengan teknik pertanggalan karbon radioaktif. Di sisi lain, data sejarah memperlihatkan adanya keterputusan peradaban di abad ke-6, yang ditandai dengan punahnya kebudayaan Pasemah (Lampung) dan Aruteun/Holotan (Jawa Barat). Di luar Indonesia, sejumlah peradaban juga diketahui berakhir kala memasuki abad ke-6, misalnya Beikthano (Myanmar), peradaban pantai barat Malaya (Malaysia) dan peradaban Oc Eo (Kampuchea). Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah peradaban berakhir. Dan letusan dahsyat gunung berapi dapat menjadi salah satu faktornya, seperti terlihat pada berakhirnya peradaban Papekat dan Tambora di pulau Sumbawa akibat Letusan Tambora 1815.

Ada sebuah karya sastra klasik di tanah Jawa yang samar-samar menyajikan penggambaran mencekam akan peristiwa letusan dahsyat sebuah gunung berapi di masa silam. Yakni kitab Pustaka Raja Purwa, yang ditulis oleh R Ng (Raden Ngabehi) Ranggawarsita sang pujangga besar terakhir di tanah Jawa pada 1869 di istana Kasunanan Surakarta. Kitab ini sejatinya merupakan kumpulan cerita yang berakar dari kitabMahabharata dan Ramayana nan tersohor. Sehingag kisah-kisah didalamnya berakar dari awal milenium di tanah India, dengan beberapa bagiannya telah dimodifikasi agar sesuai dengan situasi tanah Jawa. Di salah satu bagian kitab yang menjadi acuan para dalang wayang kulit itu tersurat kisah menggetarkan. Tertera, betapa pada suatu waktu bumi Jawa dikejutkan oleh dentuman keras melebihi halilintar yang datang dari arah Gunung Batuwara dan Gunung Kapi. Tanah pun bergetar keras yang segera diikuti amukan petir dan halilintar. Suasana menjadi gulita bahkan meski di siang hari. Hujan mengguyur sangat deras. Dan beberapa saat kemudian air bah yang tak biasa pun menggenang hebat, menjalar dari Gunung Kapi di barat hingga Gunung Kamula di timur. Setelah semua itu usai, Jawa terpisah dari Sumatra.

Gunung Batuwara kini kita kenal sebagai Gunung Pulosari, salah satu gunung berapi anak di lingkungan kaldera Dano (Banten). Gunung Kapi terletak di sisi barat Gunung Batuwara. Hanya ada satu gunung berapi yang sesuai dengan ciri-ciri Gunung Kapi ini, yakni Gunung Krakatau.

Baik, mari anggap Gunung Krakatau menjadi biang keladi perubahan iklim dramatis di tahun 535, yang menggiring segenap dunia berperadaban menuju ke abad kegelapan lewat letusan sangat dahsyatnya. Nah seberapa besar letusan tersebut?

Gambar 5. Peta kedalaman dasar Selat Sunda berdasar arsip Angkatan Laut Inggris di era perang Napoleon, dipadukan dengan peta topografi daratan Sumatra dan Jawa. Nampak cekungan nyaris membulat selebar sekitar 50 km yang diduga adalah kaldera raksasa produk Letusan Krakatau Purba. Sumber: Wohletz, 2000.

Inilah yang ditelusuri seorang Ken Wohletz, ahli kegunungapian (vulkanolog) di Laboratorium Nasional Los Alamos (Amerika Serikat), tempat senjata nuklir pertama dirakit dan diledakkan. Para ahli kegunungapian pada umumnya telah dapat menerima bahwa apa yang kini kita kenal sebagai Kepulauan Krakatau sejatinya merupakan relik (sisa) dari Gunung Krakatau Purba yang demikian besar. Gunung tersebut mungkin menjulang setinggi hingga 2.000 meter dari permukaan laut dengan bentangan kakinya melampar hingga selebar 12 km. Letusan sangat dahsyat di masa silam melenyapkan hampir seluruh tubuhnya dan membentuk kaldera berdiameter sekitar 7 km. Sebagian dinding kaldera yang masih tersembul di atas Selat Sunda sebagai pulau Rakata, Sertung dan Panjang. Pada satu titik di pulau Rakata, kelak di kemudian hari tumbuh Gunung Krakatau yang pada klimaksnya berkembang membesar dengan tiga puncak utamanya: Rakata, Danan dan Perbuwatan. Pasca letusan 1883, seluruh tubuh Gunung Krakatau lenyap menjadi kaldera, kecuali sebagian pulau Rakata. Di tengah-tengah kaldera letusan 1883 inilah tumbuh Gunung Anak Krakatau yang kita kenal sekarang.

Tapi menurut Wohletz, ukuran Gunung Krakatau Purba mungkin lebih besar. Merujuk peta kedalaman Selat Sunda dalam arsip Angkatan Laut Inggris yang berasal dari masapendudukan di tanah Jawa pada era perang Napoleon, Wohletz mendapati adanya cekungan besar (bergaris tengah sekitar 50 km). Cekungan ini dipagari oleh Kepulauan Krakatau, pulau Sebesi, pulau Sebuku, kaki Gunung Rajabasa dan pulau Sangiang. Jejak tepian cekungan ini di Pulau Sangiang nampak sebagai tebing terjal yang menyayat sebagian tubuh gunung berapi purba pembentuk pulau itu. Terletak tepat di lokasi gunung berapi aktif, tafsiran terbaik akan eksistensi cekungan ini adalah kemungkinan besar merupakan kaldera, lubang besar yang ditinggalkan di permukaan Bumi (dalam hal ini di dasar Selat Sunda) akibat letusan yang teramat dahsyat. Jika kalderanya sebesar ini maka jelas Gunung Krakatau Purba bertubuh jauh lebih besar. Kaki gunungnya mungkin membentang hingga mencakup area berdiameter 50 km atau lebih. Ketinggiannya nampaknya melebihi tinggi Gunung Rajabasa (1.281 meter dpl), mungkin hingga setinggi 3.000 meter atau bahkan lebih.

Gambar 6. Tebing terjal di Pulau Sangiang, yang secara menakjubkan memperlihatkan penampang bagian puncak gunung berapi purba dengan dua kawahnya. Tebing terjal ini kemungkinan merupakan salah satu titik tertinggi dari (dugaan) dinding kaldera raksasa Krakatau Purba yang lebarnya sekitar 50 km. Sumber: Bronto, 2012.

Agar sebuah gunung sebesar ini bisa ambruk dan lenyap menjadi kaldera yang berada di bawah permukaan laut, maka harus terjadi subsidens (amblesan) sebesar sekitar 100 meter. Subsidens ini disebabkan oleh kosongnya kantung magma dangkal di dasar gunung seiring dimuntahkannya magma secara besar-besaran dalam letusan yang sangat dahsyat. Jika dianggap diameter kantung magma dangkal tersebut sekitar 50 km, maka subsidens sebesar 100 meter ini hanya bisa disebabkan oleh tersemburnya magma menjadi rempah letusan sebanyak sekitar 200 kilometer kubik (200.000 juta meter kubik).

Lewat program komputer Erupt3 yang dikembangkannya, Wohletz pun telah menyimulasikan sejumlah aspek dalam letusan dahsyat tersebut, dengan bersandar pada beberapa anggapan. Sebelum meletus dahsyat, tubuh Gunung Krakatau Purba demikian besar sehingga menyembul ke atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau vulkanis. Pulau ini demikian besar sehingga menutupi hampir seluruh bagian perairan Selat Sunda yang membentang di antara kaki Gunung Rajabasa (Sumatra) hingga Anyer (Jawa). Sebagai gunung berapi laut, perilaku Gunung Krakatau Purba sangat dipengaruhi berlimpahnya air laut yang mengepungnya dari segenap penjuru. Saat letusan mulai terjadi rempah letusan disemburkan Gunung Krakatau Purba hingga setinggi sekitar 20 km dari paras Selat Sunda, sebagai erupsi freatik. Erupsi freatik ini terjadi saat magma segar yang sedang mendesak naik mulai bertemu dengan air laut yang meresap di dalam tubuh gunung, menghasilkan uap panas bertekanan tinggi yang lantas mendobrak titik lemah di sekitar puncak. Tersemburlah uap air bersama debu vulkanik dari magma tua yang sudah membatu.

Erupsi freatik menciptakan lubang letusan, memperlebarnya dan mengawali retak-retak ke segenap arah hingga mulai melemahkan kekuatan batuan penyusun tubuh gunung. Kekuatan yang melemah memungkinkan magma mulai tersembur, lama-kelamaan dalam jumlah kian membesar dan bertekanan sangat tinggi. Terjadilah erupsi magmatik dalam tipe erupsi ultraplinian. Menyeruak dengan suhu sekitar 900 derajat Celcius, magma yang keluar sebagai batuapung dan debu vulkanik melesat dengan kecepatan awal sangat tinggi, sekitar dua kali lipat kecepatan suara, kala terlepas dari lubang letusan. Akibatnya mereka tersembur hingga setinggi 50 km dari paras selat Sunda dan lantas membentuk struktur menyerupai cendawan raksasa, untuk kemudian berjatuhan kembali ke Bumi. Hujan debu vulkanik pekat dan batuapung mengguyur deras hingga radius sekitar 60 km dari lubang letusan.

Gambar 7. Salah satu hasil simulasi program Erupt3 tentang karakter (kemungkinan) Letusan Krakatau Purba 535. Atas: saat letusan hendak mencapai puncaknya sebagai tipe ultraplinian yang menyemburkan material setinggi 60 km dan membentuk awan cendawan raksasa. Bawah: klimaks letusan ditandai dengan letusan tipe freatoplinian akbar dengan semburan material setinggi  30 km dan membentuk awan panas. Kombinasi dua tipe letusan inilah yang membentuk kaldera selebar 50 km dengan memuntahkan 200 kilometer kubik magma. Sumber: Wohletz, 2000.

Pengeluaran magma secara besar-besaran dalam tahap ini membuat kantung magma dangkal di dasar gunung mulai terkosongkan. Bobot tubuh gunung yang sangat besar membuat retak-retak di sekujur tubuhnya kian bertambah. Subsidens pun mulai terjadi. membuat kian banyak saja air laut yang merasuk. Pada saat yang sama tubuh gunung yang kian melemah memungkinkannya memuntahkan magma dalam jumlah lebih besar. Maka klimaks letusan pun terjadilah, saat air laut bercampur langsung dengan magma panas membara membentuk erupsi bertipe freatoplinian akbar. Gelegar suara letusannya terdengar jauh hingga ke daratan Cina. Setiap detiknya gunung ini memuntahkan sekitar 400.000 meter kubik magma yang membentuk debu, lapili (kerikil), bom vulkanik (bongkahan besar) dan batuapung. Rempah vulkanik yang lebih besar dan berat dari debu dan batuapung menyembur hingga ketinggian sekitar 30 km. Setelah membentuk struktur cendawan raksasa, rempah letusan ini pun berjatuhan kembali ke Bumi dalam kondisi masih cukup panas sehingga menjadi awan panas (piroklastika) letusan. Awan panas diperkirakan menjalar hingga sejauh 60 km dari lubang letusan memanggang benda apa saja yang dilewatinya. Setelah klimaks letusan terlampaui, intensitas letusan pun berkecenderungan menurun. Pada saat yang sama tubuh gunung pun terus menghancur dan melesak ke dalam laut membentuk kaldera. Air laut yang masih terus merasuk terus bercampur dengan sisa-sisa magma yang tak tersembur, menghasilkan semburan uap panas bertekanan tinggi bercampur debu vulkanik yang kembali menghambur hingga setinggi sekitar 20 km. Erupsi freatik ini menjadi bab penutup dari kedahsyatan letusan itu.

Dengan memuntahkan sekitar 200 kilometer kubik magma, Letusan Krakatau Purba adalah 25 % lebih besar ketimbang Letusan Tambora 1815 (volume magma 160 kilometer kubik) dan 10 kali lebih dahsyat dari Letusan Krakatau 1883 (volume magma 20 kilometer kubik). Lewat program Erupt3-nya, Wohletz menyimpulkan terkurasnya magma sebanyak itu menyebabkan Gunung Krakatau Purba mengalami subsidens dan mengubah topografinya secara dramatis. Hampir segenap tubuh gunung lenyap terbenam menjadi kaldera, kecuali sebagian kecil area puncak yang masih menyembul di atas permukaan Selat Sunda sebagai pulau kecil. Maka bentang lahan yang selama ini seakan menjembatani pulau Jawa dan Sumatra pun terputus sudah.

Gambar 8. Hasil simulasi program Erupt3 terkait (kemungkinan) perubahan topografi Gunung Krakatau Purba antara sebelum dan sesudah letusan dahsyatnya di tahun 535. Sebelum letusan, tubuh gunung merentang demikian lebar hingga berperan sebagai jembatan alamiah penghubung daratan pulau Sumatra dan Jawa. Setelah letusan, jembatan tersebut menghilang berganti dengan kaldera 50 km yang tergenangi air laut sebagai bagian dari Selat Sunda. Sumber: Wohletz, 2000.

Letusan sangat dahsyat yang mengambil tempat di sebuah pulau vulkanis ini jelas membentuk gelora raksasa atau tsunami. Tsunami terbentuk seiring ambruknya tubuh gunung ke dasar laut bersamaan dengan hempasan awan panas yang menjalar di dasar laut. Seberapa besar daya hancur tsunaminya belum bisa diketahui. Di sisi lain, dampak letusan sangat dahsyat ini sangat terasa di sekujur penjuru Bumi. Dari 200 kilometer kubik magma, 10 hingga 80 kilometer kubik diantaranya berupa debu vulkanik halus yang terinjeksi demikian tinggi hingga memasuki lapisan stratosfer. Namun tak hanya debu. Letusan juga mengubah sekitar 150 meter kubik air laut menjadi uap sebanyak sekitar 200.000 kilometer kubik. Separuh diantaranya mengembun kembali di ketinggian rendah, namun sisanya membumbung tinggi memasuki lapisan stratosfer dan berubah menjadi kristal-kristal es. Pada saat yang sama juga tersembur sekitar 180 juta ton gas belerang, yang lantas bereaksi dengan uap air membentuk tetes-tetes asam sulfat. Sirkulasi atmosferik di lapisan stratosfer membuat debu, aerosol asam sulfat dan kristal es tersebar ke segenap penjuru dan menciptakan tabir surya vulkanik demikian tebal. Ketebalannya mencapai sekitar 20 hingga 150 meter, yang melayang di ketinggian 30 km tanpa bisa dicuci oleh proses cuaca.

Dampaknya sangat menyiksa Bumi hingga beberapa tahun kemudian. Tabir surya vulkanik nan tebal ini menghalangi 50 % cahaya Matahari yang seharusnya diteruskan ke Bumi. Terjadilah penurunan suhu rata-rata permukaan Bumi, yang bisa mencapai 5 derajat Celcius di bawah normal. Imbasnya udara menjadi lebih dingin, tutupan es pun menyebar keluar dari lingkaran kutub dan jumlah uap air yang diproduksi dari lautan pun menurun. Akibat lebih lanjutnya, cuaca pun sangat terganggu. Kekeringan berlangsung dimana-mana, meski tak jarang juga terjadi hujan sangat lebat hingga badai yang salah musim. Keberadaan kristal-kristal es di lapisan stratosfer pun berdampak pada hancurnya lapisan Ozon. Sinar ultraviolet beta dari Matahari pun membanjir deras tanpa terhalangi dan bekerja merusak sel-sel makhluk hidup. Secara keseluruhan letusan ini benar-benar membuat Bumi menjadi tak nyaman ditinggali makhluk hidup, khususnya manusia. Tak heran jika abad kegelapan pun terjadilah.

Masa Depan

Di atas kertas, seperti itulah kedahsyatan Letusan Krakatau Purba, yang diperkirakan terjadi pada tahun 535. Tentu saja butuh penelitian lebih lanjut guna memastikan apakah semua atau sebagian hasil simulasi itu memang benar-benar terjadi ataukah tidak. Yang jelas, lapisan debu setebal 20 meter yang terjepit di antara lapisan produk letusan 8.000 tahun silam dan lapisan produk Letusan Krakatau 1215 memastikan bahwa pada suatu waktu di masa silam Gunung Krakatau memang pernah meletus dengan kedahsyatan letusan yang jauh lebih besar ketimbang Letusan Krakatau 1883.

Sifat Gunung Krakatau yang gemar meletus dahsyat dan menghancurkan dirinya sendiri, setidaknya sudah tiga kali terjadi, tentu harus menjadi perhatian. Terlebih kawasan Selat Sunda kian memegang peranan penting. Perairan ini menjadi salah satu urat nadi terpenting bagi Indonesia modern, sebagai jalur penghubung antara pulau Sumatra dan Jawa lewat laut. Bahkan kelak jalur darat pun bakal tersambung dengan Jembatan Selat Sunda, meski pembangunannya masih dalam rencana dan terus menuai kontroversi. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi juga terus berdiri di sini. Alangkah baiknya jika segenap kepentingan manusia yang didirikan di kawasan ini tetap menyesuaikan diri dengan sifat alamiah Gunung Krakatau. Itu untuk kebaikan kita sendiri. Karena kita manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan dinamika alam semesta, bukan sebaliknya. Dalam kasus Gunung Krakatau, kitalah yang harus bersiap semenjak dini andaikata gunung berapi lasak ini kembali mempertontonkan kedahsyatannya di masa depan.

Data lain

Bahwa Agustus selalu menjadi bulan kalender yang penuh arti bagi Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, negeri ini memperingati saat-saat kelahirannya yang membahana dan pada tahun 2013 ini telah diperingati untuk ke-68 kalinya. Dan berselang sepuluh hari kemudian, negeri ini kembali “memperingati” salah satu momen tergelap sepanjang sejarahnya. Ya. Pada 27 Agustus 2013 tepat 130 tahun silam Gunung Krakatau di selat Sunda yang kini menjadi bagian administratif propinsi Lampung, mencapai puncak letusannya dalam sebuah drama letusan gunung berapi dengan kedahsyatan yang tak tertanggungkan lagi bahkan untuk ukuran manusia modern.

Gambar 1. Awal letusan pulau Krakatau yang bersumber dari puncak Perbuwatan pada Mei 1883, diabadikan dalam foto hitam putih. Sumber : Simkin & Fiske, 1983.

Ada suasana penyambutan nan jauh berbeda bagi kedua hari istimewa itu. Bila 17 Agustus menjadi momen yang senantiasa dinanti dan dirayakan dengan penuh kegembiraan baik lewat rangkaian pesta rakyat di berbagai tempat maupun upacara formal dengan petatah-petitih para pejabat, sebaliknya 27 Agustus hanya terdengar sayup-sayup dikenang segelintir kalangan. Mungkin inilah imbas gayahidup manusia modern khususnya di Indonesia yang enggan mengingat apalagi mengenang bencana menyakitkan dan peristiwa kematian. Padahal di balik bencana selalu tersembunyi sejumlah pelajaran penting yang sangat berharga bagi kualitas kehidupan manusia masa depan masa depan, khususnya tatkala berhadapan kembali dengan petaka sejenis.

Gunung Krakatau menjadi gunung berapi terpopuler bagi manusia Indonesia khususnya lewat kedahsyatan letusannya pada 1883. Dalam persepsi umum, inilah amukan gunung berapi terdahsyat dalam era sejarah, meski sejatinya tidak demikian. Hanya 68 tahun sebelum Krakatau melepaskan amarahnya, Gunung Tambora di pulau Sumbawa (kini bagian propinsi Nusa Tenggara Barat) meletus demikian dahsyatnya dengan puncaknya pada 11 April 1815. Ia memuntahkan magma panas membara dalam jumlah delapan kali lipat lebih banyak ketimbang Krakatau 1883. Energi letusannya pun demikian besar. Kumpulkan seluruh hululedak nuklir di dua negara adidaya pada puncak Perang Dingin (yakni AS dan Uni Soviet) lalu ledakkan di satu secara bersama-sama, maka energi ledakan itu masih belum melampaui kedahsyatan Letusan Tambora 1815.

Namun, mari abaikan Tambora untuk sementara dan kita fokuskan perhatian ke Krakatau. Sebelum Agustus 1883, gunung berapi ini hanyalah sebentuk pulau kecil biasa saja yang berjajar dengan sejumlah pulau-pulau lainnya di Selat Sunda seperti pulau Sertung (Verlaten), Rakata Kecil (Lang), Sebesi dan Sebuku. Pulau Krakatau berbentuk lonjong sepanjang sekitar 7 kilometer dan berhias tiga gundukan mirip bukit. Berderet dari tenggara ke baratlaut, ketiganya adalah puncak Rakata (798 meter dpl), Danan (500 meter dpl) dan Perbuwatan (130 meter dpl). Ketiga gundukan ini sejatinya merupakan gunung berapi bawah laut, yang tumbuh pasca letusan dahsyat 1200 (tahun pastinya belum diketahui) di kawasan ini. Dalam perkembangannya ketiga gunung berapi bawah laut itu kian membesar sehingga akhirnya menyembul di atas Selat Sunda dan lama-kelamaan tubuh ketiganya pun menyatu menjadi pulau Krakatau. Pulau kecil ini sempat dihuni manusia dengan kehidupan agrarisnya, lengkap dengan persawahan dan perkebunan. Angkatan Laut kolonial Hindia Belanda bahkan sempat membangun galangan kapal di sini. Namun di awal abad ke-19 saat Indonesia beralih ke penjajahan Inggris yang singkat, pulau Krakatau ditinggalkan tanpa alasan yang jelas. Sehingga lambat laun semuanya berubah menjadi hutan belantara yang indah dan permai laksana surga. Namun pada Agustus 1883, surga nan indah itu sontak berubah menjadi neraka panas membara saat ketiga puncak di pulau Krakatau meletus dengan dahsyatnya.

Gambar 2. Topografi pulau Krakatau hanya dua minggu sebelum lenyap dalam puncak letusan dahsyatnya, berdasarkan data-data pengukuran Kapten Firzenaar pada 11 Agustus 1883. Sumber: Carayannis, 2010.

Letusan Krakatau 1883 amat populer sebagai bencana alam terdahsyat bagi Indonesia pasca Letusan Tambora 1815 dan bertahan hingga lebih dari seabad kemudian. Rekornya baru ditumbangkan pada akhir 2004 saat bencana gempa akbar Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 meletup. Korban jiwa yang direnggut letusan dahsyat ini mencapai 36.417 orang, berdasarkan catatan resmi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Namun para ilmuwan terkini memperkirakan korban sesungguhnya jauh lebih besar, mungkin bahkan mencapai angka 120.000 orang. Hampir seluruhnya meregang nyawa oleh terjangan tsunami luar biasa yang terbentuk sebagai akibat ambruknya pulau Krakatau diiringi pembentukan kaldera besar dan injeksi material vulkanik dalam jumlah sangat besar ke dasar Selat Sunda. Tetapi di antara korban-korban itu, ada sekitar 1.000 jiwa yang tewas terpapar material vulkanik muntahan Krakatau. Seluruhnya berasal dari Katimbang yang kini dikenal sebagai Katibung, berdekatan dengan Kalianda dan menjadi bagian dari propinsi Lampung. Inilah kisah panas yang memilukan, yang betul-betul panas karena melibatkan suhu yang demikian tinggi dan membakar.

Katimbang

Katimbang adalah satu kawasan pesisir Selat Sunda di kaki barat Gunung Rajabasa yang dikenal subur sehingga menjadi kawasan perkebunan produktif. Ia berjarak sekitar 37 kilometer di sebelah utara pulau Krakatau. Katimbang bukanlah pemukiman terdekat ke gunung berapi kolosal tersebut, sebab masih ada pulau Sebuku yang berpenduduk sekitar 3.000 orang dan hanya sejauh 20 kilometer dari pulau Krakatau. Perkebunan Katimbang berada di bawah kendali kontrolir Willem Beijerinck, seorang Belanda muda belia yang dibebani menangani administrasi daerah kolonial nan liar dengan gaji kecil. Meski kurang berpengalaman dan kerap dipandang sebelah mata oleh sesama kontrolir lainnya, Willem Beijerinck dan istrinya Johanna Beijerinck dikenal rajin menulis. Catatan-catatan merekalah yang menjadi saksi bisu berharga tentang apa yang terjadi di Katimbang, baik sebelum maupun selama letusan dahsyat Krakatau 1883.

Pada Februari 1883 telah terjadi getaran demi getaran yang terasa di Katimbang. Getaran itu berintensitas kecil dan tak menyebabkan kerusakan maupun kepanikan, namun berlangsung secara kontinu dalam jangka waktu tertentu untuk kemudian berhenti. Kini ilmu kegunungapian modern mengetahui bahwa pada saat itu magma segar dalam jumlah sangat besar dan sangat kental sedang mulai mengalir dari dapur magma Krakatau nun jauh di kedalaman puluhan kilometer menuju ke kantung magma yang lokasinya tepat di bawah gunung.

Gambar 3. Posisi pulau Krakatau di tengah Selat Sunda terhadap daratan Sumatra dan Jawa serta titik-titik yang melaporkan dampak letusan Krakatau di lokasi masing-masing, yakni Katimbang serta tiga kapal uap (Charles Baal, Loudon dan WH Besse). Nampak jejak-jejak aliran 'awan panas bawah air' (submarine pyroclastic flow deposit) dan bagian awan panas yang menjalar di atas permukaan air Selat Sunda (pyroclastic current travelling over the sea). Dengan posisinya yang paling dekat ke Krakatau, Katimbang menerima bagian awan panas yang masih pekat dan bersuhu tinggi. Sumber: Pratomo, 2006.

Berselang tiga bulan kemudian, tepatnya 9 Mei 1883, Beijerinck kembali mencatat terjadinya getaran demi getaran di Katimbang, namun kali ini terasa cukup keras dan mulai menakutkan. Tak ada yang tahu apa penyebabnya. Tapi kini kita tahu, saat itu magma segar telah mencapai kantung magma dan sedang berjuang keras meretakkan lapisan-lapisan bebatuan yang menghalangi jalannya menuju ke puncak. Getaran demi getaran itu berpuncak pada terjadinya letusan pertama, yang menyembur dari puncak Perbuwatan pada 20 Mei 1883. Kepulan debu vulkanik pekat dan gas menyembur hingga setinggi 11 kilometer. Para nelayan di Selat Sunda, juga para penebang kayu untuk bahan pembuatan kapal di Katimbang menjadi saksinya, pun kapten Lindeman bersama awak kapal uap Loudon. Dan hanya berselang beberapa saat kemudian hempasan tekanan udara yang kuat menerjang Katimbang, tanpa dampak apapun. Hempasan serupa pun dirasakan instrumen barometer stasiun cuaca Dr. Vanderstock di Batavia, 160 kilometer dari Krakatau. Namun tak ada dampak berarti yang diderita Katimbang pasca letusan pertama ini. Pulau Krakatau kemudian terus aktif menyemburkan gas dan debu vulkaniknya selama empat bulan kemudian.

Katimbang baru benar-benar merasakan kedahsyatan letusan Krakatau pada Minggu sore 26 Agustus 1883. Pada pukul 17:07 setempat, pulau Krakatau memasuki babak sangat mematikan dimulai dengan gelegar dentuman sangat keras dari arah puncak Perbuwatan yang terdengar ke segala arah, bahkan hingga sejauh 5.000 kilometer dari gunung. Suara ini tercatat sebagai suara terkeras yang pernah terjadi di Bumi sampai sekarang. Debu vulkanik pekat dan gas disemburkan hingga setinggi 27 kilometer. Sebagian pulau Krakatau khususnya di sekitar puncak Perbuwatan hancur hingga hanya tersisa kawah raksasa bergaris tengah sekitar 1 kilometer. Gelombang tekanan udara (gelombang kejut) yang dilepaskannya yang dikombinasikan dengan rangkaian letusan demi letusan bawah laut berikutnya menghasilkan gelombang tinggi yang berderap sebagai tsunami. Maka hanya dalam sejam kemudian, kala Matahari beranjak terbenam, Katimbang menerima terjangan tsunaminya. Akibatnya rumah-rumah penduduk dan fasilitas apa saja di dekat garis pantai hancur. Mujur bahwa sebagian besar penduduk Katimbang telah mengungsi lebih dulu menuju hutan lebat di lereng bawah Gunung Rajabasa yang lokasinya lebih tinggi atas perintah Willem Beijerinck sebelum terlalap tsunami. Namun tak satupun yang tahu bahwa hanya dalam beberapa belas jam kemudian mereka bakal berhadapan dengan situasi yang paling menggidikkan dalam letusan Krakatau.

Setelah melewati malam yang riuh dan membara oleh rentetan letusan demi letusan Krakatau yang saling susul-menyusul setiap 10 menit sekali layaknya tembakan mitraliur, pada Senin 27 Agustus 1883 gunung ini mencapai puncak letusannya. Letusan teramat dahsyat, yang menghamburkan lebih dari 15 kilometer kubik rempah vulkanik yang mencakup lebih dari 75 % total magma yang dimuntahkan Letusan Krakatau 1883, terjadi pada pukul 10:02 setempat. Tsunami dahsyat pun terbentuk, dengan tinggi gelombang hingga seratusan meter di awal mulanya dan segera berderap ke segenap sisi Selat Sunda dengan kecepatan kurang dari 100 km/jam. Sembari menjalar, ia juga mengaduk-aduk isi perairan laut sempit itu hingga bongkah-bongkah karang tercabut dari akarnya. Baik pesisir Jawa maupun Sumatera segera direndam terjangan tsunami dengan ketinggian antara 15 hingga 33 meter.

Tsunami tidak berdampak bagi penduduk Katimbang yang telah mengungsi ke hutan. Air laut tak sanggup menjangkau mereka. Namun petaka dalam bentuk lain segera datang menerpa. Mendadak angin kencang menerjang diikuti hempasan debu-debu sehalus bedak yang teramat panas yang segera melumat tempat pengungsian di lereng gunung itu. Dampaknya cukup mematikan. Dari 3.000 warga Katimbang yang turut mengungsi di hutan belantara itu, sekitar 1.000 orang diantaranya langsung tewas meregang nyawa dengan tubuh terpanggang bara atau menghilang di bawah timbunan debu. Sementara sisanya tak luput dari lara, penuh dengan luka-luka bakar di sekujur tubuh dalam berbagai tingkatan. Termasuk Willem dan Johanna Beijerinck, yang beruntung sedang berada di dalam salah satu rumah pengungsian sehingga terpaan debu panas yang mengenainya relatif sedikit. Namun keduanya kehilangan salah satu bayi mereka dalam petaka tersebut.

Letusan Mendatar

Gambar 4. Detik-detik letusan lateral Gunung St Helena pada 18 Mei 1980 hanya dalam tempo 31 detik semenjak pukul 08:32:47,0 hingga pukul 08:33:18,8 setempat. Nampak hanya sedikit kepulan gas dan debu vulkanik yang membumbung vertikal, sebagian besar diletuskan mendatar ke arah kanan dari bidang foto ini. Sumber: USGS, 1980.

Catatan-catatan dari Willem dan Johanna Beijerinck segera diterbitkan selepas tahun 1883. Hempasan debu panas membara yang menyelimuti Katimbang pun sontak mendunia dan populer sebagai peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Peristiwa ini sempat membikin pening para ahli kebumian dan kegunungapian masa itu. Betapa tidak. Tak ada keraguan bahwa debu-debu superpanas sehalus bedak yang menerpa Katimbang merupakan bagian dari awan panas, yakni material vulkanik produk letusan dalam bentuk pasir dan debu bercampur gas vulkanik yang semuanya bersuhu tinggi. Seluruh materi tersebut meluncur bergulung-gulung hingga berbentuk mirip awan dan dari sinilah kata ‘awan panas’ itu bermula. Penyelidikan geolog RDM Verbeek dan dilanjutkan oleh geolog-geolog lainnya memperlihatkan awan panas Krakatau tak hanya menghantam Katimbang, namun bahkan meluncur hingga 10 kilometer lebih dari garis pantai. Jangkauan awan panas mencapai 48 kilometer dan sepenuhnya terpusat ke arah utara.

Apakah peristiwa ini adalah salah satu ciri khas letusan gunung berapi yang sangat dahsyat? Nampaknya tidak juga. Dalam Letusan Pinatubo 1991 (Filipina) yang memuntahkan magma hingga lebih dari separuh Letusan Krakatau 1883, awan panasnya tak sempat melampaui jarak 16 kilometer dari kawah. Jelas ada penyebab lain yang membuat awan panas Krakatau melejit demikian jauh.

Pencerahan pertama datang hampir seabad kemudian, yakni kala Gunung St Helena di negara bagian Washington (AS) meletus dahsyat di 18 Mei 1980 meski skala kedahsyatannya masih 20 kali lebih lemah dibanding Krakatau 1883. Yang istimewa Letusan St Helena 1980 diawali dengan runtuhnya lereng utara gunung sehingga magma yang telah tersimpan di tubuh gunung tak tersembur secara vertikal melainkan horizontal (mendatar) dan menuju ke satu sisi saja, yakni ke arah utara. Inilah fenomena letusan mendatar (lateral) yang telah diteorikan semenjak berpuluh-puluh tahun sebelumnya namun baru pada saat itulah menjumpai bukti langsungnya.

Gambar 5. Kiri : bagaimana awan panas letusan Soufriere Hills mulai mengalir menuju ke Laut Karibia dalam letusannya di tahun 1995 dan kemudian terus menjalar menyeberangi laut hingga sejauh 1 kilometer lebih. Kanan: delta vulkanik seluas sekitar 100 hektar yang terbentuk pasca hempasan awan panas. Sumber: USGS, 1995.

Sementara pencerahan kedua datang pada saat Gunung Soufriere Hills di pulau Montserrat (teritori Inggris seberang lautan) di perairan Karibia meletus pada 18 Juli 1995. Letusan besar tersebut cukup fenomenal karena mengubur ibukota Plymouth hingga bermeter-meter di bawah timbunan batu dan pasir vulkanik. Pulau Montserrat merupakan pulau gunung berapi dan Soufriere Hills adalah salah satu puncaknya. Sehingga tatkala meletus, Soufriere Hills pun mengalirkan awan panasnya hingga melampaui batas garis pantai. Dan tatkala hempasan awan panas Soufriere Hills memasuki Laut Karibia, terjadilah peristiwa yang tak biasa. Awan panas itu ternyata terus menjalar seakan-akan berjalan di atas permukaan air laut dan baru berhenti setelah melampaui jarak lebih dari 1 kilometer terhadap garis pantai. Pasca peristiwa ini terbentuk daratan baru yang mirip delta (sehingga disebut delta vulkanik) seluas sekitar 100 hektar.

Bagaimana awan panas bisa menjalar di permukaan air laut? Jawabannya ditemukan dalam eksperimen Armin Freundt (2001) di Geomar Research Center for Marine Geosciences di kota Kiel (Jerman). Saat awan panas yang semula menjalar di darat mulai memasuki laut, terjadilah letupan uap yang diikuti terpisahnya butir-butir pasir dan batuan (yang massa jenisnya lebih besar dibanding air) dengan butir-butir debu halus (yang massa jenisnya lebih kecil dari air). Bagian awan panas dengan massa jenis lebih besar terbenam ke dasar laut namun tetap melaju sebagai ‘awan panas bawah air’ yang kemudian berubah menjadi arus turbidit. Pergerakan ini menciptakan olakan besar pada kolom air laut di atasnya, yang kemudian menjalar sebagai tsunami. Sementara bagian awan panas yang massa jenisnya lebih kecil tetap melaju di atas permukaan air laut sampai jarak tertentu sebelum kehilangan seluruh kecepatannya dan kemudian membumbung tinggi ke udara sebagai abu vulkanik.

Pelajaran Ke Depan

Gambar 6. Skema perilaku awan panas bila memasuki air/laut, berdasarkan eksperimen Freundt (2001). Saat awan panas yang menjalar dari lereng gunung mulai memasuki laut, terjadi letusan uap di pesisir (littoral explosion) dan awan panas terbagi menjadi dua bagian. Bagian yang lebih berat menjadi awan panas bawah air (pyroclastic flow underwater) sementara yang lebih ringan tetap mengapung di permukaan sembari menjalar dengan kecepatan tinggi (pyroclastic flow over water). Sumber: Freundt, 2003.

Berdasarkan pencerahan-pencerahan tersebut, kini kita bisa menyibak lebih jauh ke dalam misteri yang selama ini menyelubungi peristiwa the Burning Ash of Katimbang. Rupanya kejadian tersebut merupakan hasil kombinasi letusan lateral Krakatau dengan penjalaran awan panas di permukaan Selat Sunda. Saat pulau Krakatau mulai memasuki fase penghancuran seiring letusan demi letusan teramat dahsyatnya, struktur lereng gunung kian lama kian melemah.

Pada satu titik, lereng gunung telah demikian lemahnya sehingga magma segar yang sedang mencari jalan keluar didalamnya mendadak berjumpa dengan udara segar. Terjadilah letusan lateral yang mengarah ke utara. Di awal mula kecepatan kolom gas dan material vulkanik yang dihempaskan itu mungkin melampaui kecepatan suara, namun lama kelamaan kian melambat. Setelah meluncur sejauh 15 hingga 20 kilometer dari gunung, kolom material vulkanik yang telah melambat lalu bertransformasi menjadi awan panas. Sebagian awan panas tenggelam ke dasar Selat Sunda (yang kedalamannya antara 20 hingga 60 meter) dan berubah menjadi ‘awan panas bawah air’ yang melaju sejauh beberapa kilometer kemudian. Sementara sebagian lainnya tetap mengapung di atas permukaan Selat Sunda, masih bersuhu tinggi (hingga sekitar 500 derajat Celcius) dan tetap menderu dengan kecepatan yang tergolong tinggi untuk ukuran manusia (mungkin sekitar 100 km/jam). Inilah yang melejit hingga sekitar 28 kilometer kemudian dan menciptakan neraka di Katimbang.

Satu pelajaran berharga yang bisa diambil dari peristiwa the Burning Ash of Katimbang adalah, jangan mengabaikan gunung berapi laut meskipun jaraknya tergolong ‘jauh’ untuk ukuran kita. Sebab tatkala meletus, apalagi jika letusannya berjenis letusan katastrofik yang menghancurkan tubuh gunung, potensi terbentuknya tsunami mematikan dan peristiwa miripthe Burning Ash of Katimbang adalah sangat besar. Inilah pelajaran berharga yang diambil dunia ilmu kegunungapian moder dari Letusan Krakatau 1883.

Sumber :

Johanna Beijerinck, 1884 dalam Discovery Channel. 2010.Krakatoa, Survivor Diary: Johanna Beijerinck,

Pratomo. 2006. Klasifikasi Gunung Api Indonesia, Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 4 Desember 2006 halaman 209-227.

Freundt. 2003. Entrance of Hot Pyroclastic Flows into the Sea, Experimental Observations. Bulletin of Vocanology no. 65 (2003) pp 144-164.

Sutawidjaja. 2006. Pertumbuhan Gunung Api Anak Krakatau Setelah Letusan Katastrofik 1883. Jurnal Geologi Indonesia vol. 1 no. 3 September 2006 halaman 143-153.

http://ekliptika.wordpress.com/2013/09/04/the-burning-ash-of-katimbang-kisah-panas-dalam-letusan-dahsyat-krakatau-130-tahun-silam/

Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Danau Toba dan Bubur Batu Membara di Perutbuminya

Leave a comment »

Kelayakan Planet Bumi untuk Kehidupan

Leave a comment »

Pengetahuan Umum Geografi

Leave a comment »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.172 pengikut lainnya.