EKONOMI HIJAU (GREEN ECONOMY)


  1. I. Pendahuluan

Pada saat ini secara global tantangan yang dihadapi adalah masalah lingkungan yang diakibatkan perubahan iklim dan krisis finansial. Dalam beberapa kampanye yang dilakukan oleh Presiden AS Barrack Obama dan Perdana Menteri Australia, isu perubahan iklim dan keterkaitannya dengan arah pembangunan ekonomi dengan emisi yang rendah karbon membawa kemenangan mereka untuk duduk ditampuk pimpinan negaranya. Pada pertemuan Governing Council/GMEF UNEP bulan Februari 2009 yang lalu, upaya pembangunan ekonomi hijau merupakan upaya yang tepat dalam menghadapi krisis finansial global dengan semboyan “ The Global Green New Deal”. Menurut UNEP pada paper Green Economy Brief 2009, beberapa negara yang telah merespon krisis finansial dengan ekonomi hijau yaitu dengan investasi pada infrastruktur hijau, mengurangi emisi karbon misalnya:

  1. Cina mengalokasikan 12% dari US$ 586 milyar paket stimulusnya untuk energi efisiensi, peningkatan kualitas lingkungan, meningkatkan 2 kali lipat pendanaan untuk pembangunan transportasi perkereta apian (low carbon emission),  pembangunan jaringan listrik baru sebesar US$ 70 milyar.
  2. Jerman telah melakukan pembangunan ekonomi hijau  dengan meningkatkan   pendanaan yang tersedia sebesar US$ 3,78 milyar untuk membiayai renovasi untuk bangunan agar menjadi bangunan hijau, mempercepat investasi pada transportasi dan mensubsidi pengembangan pembangunan per-keretaapi-an, pengelolaan air, mengurangi pajak untuk bangunan hijau dan memberikan keringanan pajak keuntungan untuk kendaraan yang ramah lingkungan.
  3. Republik Korea Selatan telah menetapkan “Green New Deal”, dimana pemerintah akan menginvestasikan US$ 38 milyar untuk 4 tahun mendatang untuk “perencanaan pertumbuhan hijau” yang terdiri dari 36 proyek besar yang terdiri dari program pemulihan 4 daerah aliran sungai yang utama, membuat jalan sepeda, meningkatkan sampai 68000 kendaraan yang ramah lingkungan, dan mengganti sebanyak 20% lampu-lampu untuk fasilitas umum menjadi lampu hemat energi dan lain sebagainya.
  4. Dan menurut Hillary Clinton, pada pembukaan pertemuan pertama persiapan Major Economies Forum bulan April 2009 yang lalu mengatakan bahwa dari dana rencana recovering sebesar US$ 80 milyar digunakan untuk program renewable energi dan energi efisiensi yang diyakini keluar dari krisis menjadi green recovery.
  5. Selain itu beberapa negara berkembang seperti Bangladesh, Srilanka juga melakukan berbagai aktifitas untuk low carbon emission, energi effisiensi serta kebijakan fiskal memungut pajak lingkungan yang digunakan sepenuhnya untuk perbaikan lingkungan

Ekonomi Hijau ini selain dilakukan oleh pemerintah juga pada tingkat mikro dilakukan juga  oleh beberapa perusahaan seperti GE, Dupont, Unilever, Coca Cola, BP, Walmart, dan mereka melakukannya dengan merubah pola berpikirnya dimana peraturan di bidang lingkungan bisa digunakannya sebagai peluang untuk mengurangi biaya dan  melakukan perubahan pada produk. Seperti kita ketahui bersama dalam melakukan suatu usaha untuk meningkatkan daya saing, menurut Michael Porter menjelaskan ada dua kategori dimana perusahaan dapat melakukan:

  1. menurunkan biaya dibandingkan kompetitornya
  2. merubah produknya dalam kualitas, feature, atau service.

Pada waktu yang lalu pendekatan perusahaan dalam pengelolaan lingkungan adalah mengupayakan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) sehingga limbah yang dihasilkan menjadi lebih sedikit dan sisanya dapat didaur ulang. Pada saat ini pendekatannya menjadi berubah menjadi reimagine, redesign sebagai upaya yang prioritas, baru kita melihat reduce, reuse dan recycle disebut sebagai upaya tradisional.

Sebagai contoh, pabrik tekstil Rohner melihat adanya kebutuhan terhadap produk ramah lingkungan sehingga mereka mencari bahan bakunya seperti ramin, wool, serat alam yang mengurangi dampak lingkungan terutama penggunaan pestisida. Selain itu Rohner juga mencari zat pewarna yang tidak toksik dan zat pewarna tersebut dipasok oleh Ciba-Geigy dan produk Rohner yang ramah lingkungan ini dinamai CLIMATEX, produk yang terurai secara alami, ramah lingkungan, dengan cara ini Rohner mencoba me-redesign produknya agar bisa memenuhi pengaturan di bidang lingkungan, hal ini juga dilakukan oleh perusahaan Herman Miller’s, Hitachi. Cara ini sangat efektif ditinjau dari daya saing dan perlindungan lingkungan.

II.         Indonesia dan Green Economy.

Pada saat ini Indonesia sangat bertumpu pada sumber daya alam-nya baik yang tidak dapat diperbaharui maupun yang dapat diperbaharui. Sumber daya alam yang pada saat ini yang menjadi tulang-punggung perekonomian kita adalah migas, mineral dan hutan kita. Dari data-data yang kita ketahui bersama misalnya hutan di Indonesia sudah mengalami degradasi sehingga tutupan lahan di Indonesia menjadi berkurang misalnya: Pulau Jawa tinggal 7,55%, Bali 27,23%, Sumatera 32%, Kalimantan 46,48%, Sulawesi 56,87%, Maluku 72,42% dan Papua 79,30%. Sedangkan minyak bumi ketersediaannya juga terbatas demikian juga batubara. Pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan telah menyebabkan terjadinya berbagai bencana lingkungan antara lain banjir, longsor, kenaikan temperatur, perubahan iklim, badai, cuaca yang tidak dapat diprediksi secara baik sehingga menimbulkan sulitnya melaksanakan program pengentasan kemiskinan yang utama pada petani dan nelayan. Dari data studi KLH tentang adaptasi menunjukkan musim tanam bergeser dari bulan November menjadi bulan Januari dan Februari. Belum lagi karena gelombang pasang yang sangat tinggi maka nelayan kita yang kapalnya sangat kecil tidak dapat melaut. Selain itu juga terjadi tekanan terhadap alih fungsi hutan, bahkan karena nilai ekonomi suatu komoditi maka banyak aktifitas ekonomi yang melanggar peraturan perundangan misalnya.kawasan lindung seperti tidak boleh bercocok tanam di kawasan lindung dengan kemiringan >40%, tetapi di Pegunungan Dieng dan Lembang, petani menanam kentang tapi akibatnya petani setelah mengalami booming uang hasil panen hanya dinikmati-nya selama 5 tahun dan setelah itu terjadi penambahan pupuk karena humusnya hilang karena erosi dan juga terjadi berbagai bencana kekeringan dan longsor.

Perubahan iklim juga memerlukan bibit tanaman khususnya padi yang tahan terhadap badai dan banjir kalau tidak akan terjadi gagal panen.

Selain terjadinya kerusakan lingkungan juga terjadi pencemaran lingkungan baik air, udara dan laut kita. Dari data Status Lingkungan Hidup Indonesia (SLHI) tahun 2007, status mutu air 33 sungai pada 30 provinsi di Indonesia sudah tercemar dengan kisaran ringan-berat bila dibandingkan mutu air sungai kelas I dan II. Padahal kita ketahui bersama air merupakan unsur utama dalam kehidupan manusia, dan dengan perubahan iklim ini bisa terjadi kelangkaan air. Berbagai peraturan perundangan diterbitkan untuk mencegah terjadinya pencemaran, kerusakan lingkungan serta memacu terjadinya perubahan iklim tetapi tanggapan pebisnis kita selalu negatif. Padahal berbagai peraturan tersebut dapat dijadikan peluang, misalnya PT. Astra karena memenuhi standar EURO II mendapatkan kepercayaan dari Toyota untuk ekspor ke negara lainnya. Peluang lain yang diambil oleh 100 perusahaan Indonesia adalah dengan carbon trading melalui program Clean Development Mechanism (CDM)  sesuai Kyoto Protocol.

Jadi pendekatan ”Redesigning and Reimagining” sebagai pendekatan baru untuk menghadapi tantangan dibidang lingkungan tersebut perlu kita lakukan secara bersama-sama. Istilah yang dapat kita gunakan ”SEKALI MENDAYUNG DUA TIGA PULAU TERLAMPAUI”

III. Rencana Aksi Nasional  Dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Indonesia bukanlah negara yang punya kewajiban terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, namun demikian karena Indonesia adalah negara yang sangat rentan terhadap dampak terjadinya perubahan iklim, maka dibuatlah Rencana Aksi Nasinal Dalam Menghadapi Perubahan Iklim (RAN PI) dengan strategi pembangunan ”pro-poor, pro-job, pro-growth and pro-environment” harus menjadi bagian integral dalam stratedi nasional menghadapi perubahan iklim.

Dalam melaksanakan RAN PI ini ada target-target yang ingin dicapai, yaitu :

Mitigasi:

  1. Sektor Energi dengan kebijakan energy mix, dimana penggunaan energi terbaharukan menjadi 15 %, penurunan emisi GRK pada tahun 2025 adalah 17% dibandingkan Business as Usual (BAU), dengan penggunaan panas bumi penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menjadi 20 % dan bila menggunakan Carbon Capture Storage (CCS) menjadi 37% penurunan GRK.
  2. Sektor LULUCF, dari 53,8 juta ha hutan yang terdegradasi ditargetkan untuk dapat direhabilitasi sebesar 36,31 juta ha sampai 2025  dan sisanya akan ditanam sampai 2050.
  3. Selain itu juga ditargetkan untuk mengurangi kebakaran hutan dengan target  ditahun 2009 turun sebesar 50% dibandingkan tahun  2006, 75% pada tahun 2012, dan 95% pada tahun 2025.

Adapun dalam program mitigasi yang utama harus dilaksanakan adalah:

-          Energi efisiensi

-          Energi terbaharukan

-          Energy Mix Policy

-          Program Menuju Indonesia Hijau

-          GERHAN

-          Masterplan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Pemberantasan Kemiskinan

-          Transportasi massa

-          Monitoring pencemaran udara

-          Kebijakan bebas pajak impor peralatan teknologi bersih

-          Program Desa Energi Mandiri,

-          Low carbon technology pada kegiatan industri.

Dan untuk program adaptasi yang utama harus dilaksanakan adalah:

  1. Meningkatkan kapasitas adaptasi masyarakat
  2. Meningkatkan tahapan implementasi yang lebih signifikan
  3. Pendanaan dan mekanisme
  4. Pendidikan, pelatihan, diseminasi informasi, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kesejahteraan
  5. Pendanaan Adaptasi, climate insurance dan kajian climate risk untuk kegiatan pertanian, perikanan dan pesisir laut
  6. Pengelolaan DAS terpadu, sumur resapan dan bipori (konservasi air)
  7. Diversifikasi pangan
  8. Pertanian organik

Dengan adanya program-program untuk mencapai target mitigasi dan pelaksanaan adaptasi, pada saat ini masih belum dapat dilaksanakan secara baik . Dan dengan adanya resesi global maka kendala untuk melaksanakan program-program utama tersebut semakin bertambah. Beberapa negara mencoba mengkaitkan penggunaan dana stimulan ekonomi untuk menunjang upaya mencegah kenaikan emisi GRK.

IV. Tantangan dan Peluang mengikuti Green Economy

Pada umumnya kita melihat krisis finansial dipisahkan dari upaya perbaikan kualitas lingkungan, bahkan seringkali uapaya perbaikan lingkungan dikorbankan hanya untuk perbaikan ekonomi. Padahal kita sudah mengalami berbagai bencana karena eksploitasi lingkungan yang jor-jor an. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kejadian bencana di Indonesia dalam periode 2003-2005 saja terjadi 1429 kejadian bencana. Sekitar 53,3% adalah bencana yang terkait dengan hidro-meteorologi (sumber Bakornas PB dan Bappenas 2006). Banjir adalah bencana yang paling sering terjadi (34%) diikuti oleh longsor (16%). Menurut UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap bencana yang terkait dengan iklim. Adapun kerugian ekonomi data dari World Bank (2006) menyebutkan bahwa kerugian global akibat perubahan iklim mencapai US$ 4,3 triliun. Kerugian ini akan menjadi beban tanggungan negara-negara berkembang dan miskin yang relatif memiliki keterbatasan kemampuan adaptasi akibat keterbatasan modal dsan teknologi. Bila negara maju ingin membantu negara berkembang dan miskin, maka dana yang terkumpul hanya US$ 500 milyar.

Memperhatikan negara-negara seperti Korea Selatan, Bangladesh, Srilanka, Cina, USA, Jerman, Inggris yang sudah melaksanakan green economy dengan membuat kebijakan fiskal dan alokasi dana yang lebih besar untuk program-program adaptasi dan mitigasi.

Pada saat ini Indonesia memberikan dana stimulan yang terbesar pada kegiatan infrastruktur, padahal Amerika dan negara-negara tersebut diatas mengalokasikan dana stimulan untuk pembangunan ekonomi rendah karbon antara lain untuk energi efisiensi, membangun energi terbaharukan, mengembangkan otomotif industri rendah karbon dimana dengan cara ini juga membuat lapangan kerja baru.

Di Indonesia juga dengan mendorong pelaksanaan program CDM, dan dengan adanya UU Persampahan dimana pembuangan sampah yang ”open dumping” harus berubah menjadi landfill sudah dimulai dilakukannya landfill dan upaya pembakaran gas metan bahkan ada yang dijadikan listrik. Selain itu, industri kelapa sawit menggunakan limbah cangkangnya menjadi bahan bakar bahkan bisa juga diproduksi listrik. Dan juga di gedung-gedung dilakukan energi efisiensi dapat menghemat biaya listrik sampai 20%, bahkan bisa lebih besar bila adanya penggantian bahan perusak ozon pada chiller akan menambah effisiensinya menjadi 40%.

Bila kita melihat potensi CDM di Indonesia dari sektor energi sebesar 125 juta ton CO2, sektor kehutan 140 juta ton CO2, totalnya adalah 265 juta CO2. Belum lagi bilamana kita berani mengembangkan REDD sebagai alternatif devisa negara dari sektor kehutanan.

Beberapa propinsi sudah melakukan beberapa aktifitas yang mengarah kepada green economy seperti DI Yogyakarta melakukan efisiensi energi listrik (lampu jalan), maka Pemda Yogyakarta bisa menyimpan biaya listrik sebesar 35 – 47%. Dana yang bisa disimpan ini digunakan untuk investasi energi terbaharukan yang dipakai oleh masyarakat yang tidak dapat  listrik dari PLN. Semua aktifitas ini juga membuka lapangan pekerjaan baru misalnya pemasangan dan pemeliharaan energi terbaharukan.

Pada kegiatan pertanian lainnya misalnya untuk pemeliharaan sapi, maka kotoran sapi yang mencemari lingkungan dan menghasilkan gas metan (GRK), dapat diambil gas metan dan dijadikan listrik. Demikian juga pada kegiatan adaptasi dengan adanya Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Sumur Resapan, maka anak-anak jalanan mendapatkan upah sebesar Rp 5000,- per lubang jadi bila sehari bisa membuat lubang sebanyak 5 buah maka anak jalanan mendapat upah >US$ 2,5

Pada kegiatan industri yang dilakukan adalah mencari alternatif energi, upaya yang dilakukan nya adalah melaksanakan CSR-nya dengan menanam pada lokasi bekas tambang tanaman produktif untuk petani penggarap dan jathropa untuk perusahaan semen sebagai energi alternatif. Selain itu melakukan bantuan pada pengelolaan sampah yang dijadikan kompos sebagai pupuk untuk petani dan bahan bakar alternatif untuk industri semen-nya. Pendekatan CSR seperti ini juga dilakukan oleh Coca Cola dimana perusahaan ini sangat aktif dalam program  lingkungan untuk konservasi air. Pendekatan ini dianjurkan juga agar dilaksankan oleh semua industri, yaitu mengaitkan kepentingan bisnis dan upaya perlindungan lingkungan.

Dengan uraian tersebut diatas kita Indonesia bisa melaksanakan green economy dengan merubah cara pandang kiat mengeksploitasi sumber daya alam sebelumnya yaitu eksploitasi sumber daya alam misalnya dari sektor kehutanan, migas, tambang, pertanian, perikanan dan pengembangan industri menuju pada:

Pemanfaatan sumber daya alam dengan prisip pembangunan berkelanjutan

  1. Kehutanan untuk pelayanan lingkungan : CDM, Carbon Trade, REDD, Eco Tourism, Keanekaragaman Hayati dan Pembagian Hasil
  2. Efisiensi Energi (biaya rendah)
  3. Energi Terbarukan : waste for energy, biomass, biogas, solar cell, mass transportation, organic for agriculture
  4. Kepariwisataan

Adapun kegiatan untuk adaptasi yang utama yang bisa dilakukan serta sekaligus memberikan lapangan pekerjaan adalah program yang dilakukan secara komprehensif untuk rehabilitasi lingkungan seperti tersebut di bawah ini;

  1. Reforestrasi dengan partisipasi masyarakat
  2. Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai
  3. Pembuatan sumur resapan/biopori
  4. Situ,kolam dan rehabilitasi Danau
  5. Rehabilatasi lahan kritis

Kegiatan tersebut juga berdampak pada uapaya pencegahan bencana lingkungan serta membantu upaya pelaksanaan program pertanian dan sektor ekonomi lainnya.

Dari uraian tersebut sudah saatnya kita merubah paradigma kita dengan melihat masalah lingkungan bukanlah untuk dihindari tapi dijadikan peluang untuk pembangunan ekonomi Indonesia menghadapi krisis finansial.

About these ads

1 Response so far »

  1. 1

    Kartikanrp said,

    untuk artikel2 seeprti ini dapat datanya dari mana ya? kalo boleh share linknya.. terimakasih :))


Comment RSS · TrackBack URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 905 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: